10 Festival Jepang yang diadakan sepanjang tahun, ada pria telanjang

Rekanbola.com – Jepang merupakan salah satu negara yang kaya akan tradisi dan budaya. Untuk itulah, banyak sekali festival yang diselenggarakan di negara ini. Tak tanggung-tanggung hampir sepanjang tahun, di setiap bulan, festival-festival unik tersebut diselenggarakan.

Dari mulai festival untuk mengusir roh jahat, sampai festival untuk melihat para gadis cilik di Jepang masih perawan atau tidak.

Topik Menarik : 15 Kostum gagal paham para pelari ini bikin susah nahan ketawa

Festival-festival tersebut rupanya juga tak pernah sepi masyarakat, dan selalu ramai para warga Jepang yang ikut berpartisipasi merayakannya. Penasaran apa saja?

Ini dia daftarnya :

 

1. Festival Somin-sai (Februari).

Festival Somin-sai atau Festival Kokuseki-ji Somin-sai adalah sebuah festival di mana pria Jepang, benar-benar tampil polos atau hanya mengenakan pakaian thong yang dikenal dengan “fundoshi”, yaitu celana dalam laki-laki khas Jepang yang terbuat dari kain putih, yang dililitkan di pinggang hingga menutup bagian genitalnya. Festival yang diciptakan oleh Asosiasi Fundoshi Jepang itu ditujukan untuk menjaga nilai budaya Negeri Sakura.

2. Festival Dorome Matsuri (April).

Festival Dorome Matsuri merupakan bagian dari budaya lokal Prefektur Kochi. Festival yang menjadi bagian dari ritual doa untuk meningkatkan panen bayi ikan teri (dorome) ini mengajak pengunjung untuk menyaksikan lomba minum sake. Setiap kontenstan yang terjun dalam kompetisi ini ditantang untuk menghabisakan 1,8 liter sake dalam sekali tegukan.

3. Festival Onbashira Matsuri (April dan Mei).

Onbashira dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai “pilar-pilar terhormat”. Festival Onbashira Matsuri dikenal secara terus-menerus dan tidak pernah terganggu selama 1.200 tahun. Festival ini terdiri dari tiga tahap, Kiotoshi, yaitu meluncurkan batang pohon menuruni bukit, Kawagoshi, yaitu menyebrang sungai, dan Tate Onbashira, yaitu mendirikan batang pohon di kuil.

4. Festival Nabe Kanmuri Matsuri (Mei).

Festival ini adalah festival yang menampilkan para gadis yang masih berusia 8 tahun dengan mengenakan kimono merah dan hijau yang disebut kariginu (pakain berburu) dengan panci di atas kepalanya. Festival ini merupakan festival tertua di Jepang. Festival ini ada sebuah ritual untuk memberikan persembahan makanan kepada para dewa, namun ada yang mengakatan, festival ini adalah ritual untuk membuktikan apakah para gadis itu perawan atau tidak. Jika tidak perawan, maka panci yang ada di atas kepalanya akan jatuh.

5. Festival Abare Matsuri (Juli).

Festival Abare Matsuri berarti festival api dan kekerasan. Festival ini sudah ada sejak 350 tahun yang lalu. Saat hari mulai gelap, mulai terlihat tanda-tanda akan dimulainya Festival Abare. Pendeta mulai melakukan ritual, diikuti oleh peserta yang menenggak alkohol. Festival ini memang identik dengan pesta minuman, bernyayi dan menari. Menariknya, sembari melakukan ketiga aktivitas ini mereka juga menandu Kiriko.

Kiriko adalah lentera suci yang biasa ditandu hingga tiga puluh orang. Tingginya bisa mencapai enam meter sehingga cukup sulit untuk membawanya sembari berparade. Saat musik didendangkan, para peserta festival akan melakukan puja-pujaan sembari menari.

6. Festival Hirakata no Doro Inkyo (Juli).

Festival ini bisa dikatakan festival terbesar di Saitama. Pada festival ini para peserta akan berkotor-kotor ria dengan melumuri badan mereka lumpur. Mereka akan melempar Mikoshi ke dalam lumpur lalu mereka juga akan menjatuhkan diri ke dalam lumpur. Festival ini dipercaya mampu membawa kesehatan dan kebahagiaan.

7. Festival Muon Bon Odori (Agustus).

Festival Muon Bon Odori diadakan di seluruh Jepang dan sekarang lebih berfokus pada hiburan dan menari daripada tradisi. Festival Bon Odori juga tempat sosial dimana pria dan wanita bertemu.

8. Festival Ryusei Matsuri (Oktober).

Festival Ryusei Matsuri telah ada selama 400 tahun. Festival yang satu ini menampilkan kompetisi meluncurkan roket yang terbuat dari bambu dan kayu pinus ke langit. Festival yang menjadi bentuk ritual Shinto ini diikuti oleh 27 SMA setempat.

9. Festival Paantu (Oktober).

Festival ini menampilkan orang-orang yang berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki dengan lumpur dan dedaunan seperti Paantu, yang berjalan di sekitar pulau untuk mengejar anak-anak dan orang dewasa dengan melemparkan lumpur pada mereka. Paantu sendiri adalah roh-roh jahat yang diberi tugas mengusir setan dan membersihkan pulau tersebut dari nasib buruk.

10. Festival Akutai Matsuri (Desember).

foto: timeout.com

Festival ini adalah festival yang mewajibkan para pria mengenakan pakaian menyeramkan serba putih, dan tujuannya untuk menghilangkan stress. Sebelum festival dimulai, akan ada sebuah kontes di mana orang yang paling keras berteriak dengan kata-kata penghinaan akan menjadi pemenang.

Facebook Comments