1,1 Juta Anak di Riau Tidak Ikut Imunisasi MR

Rekanbola Hingga hari terakhir program vaksinasi campak atau measles dan rubella (MR) pada 31 Oktober, diperkirakan sekitar 1,1 juta anak di Provinsi Riau tidak ikut imunisasi, yang mayoritas penyebabnya akibat dampak pro dan kontra kehalalan vaksin tersebut.

“Saya sudah perkirakan sebelumnya, dengan kondisi seperti ini, pencapaian sampai akhir program ini berkisar 40 sampai 45 persen. Meski sampai akhir tahun, tidak akan bisa tercapai target 95 persen,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Nazir, Rabu (31/10).

Riau mendapat giliran fase kedua program nasional vaksinasi MR untuk provinsi di luar Jawa, dengan target 95 persen dari jumlah anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun berjumlah 1.955.658 orang.

Ketika program ini diluncurkan pada Agustus 2018, muncul reaksi pro dan kontra terutama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena vaksin yang digunakan tidak halal. Dampaknya sangat terasa karena warga hingga pemerintah daerah di Riau dan provinsi lain yang mayoritas muslim, menghentikan program tersebut.

Kementerian Kesehatan kemudian memperpanjang batas berakhirnya program nasional ini dari September menjadi sampai dengan 31 Oktober 2018. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa vaksinasi MR hukumnya mubah, atau dibolehkan karena pertimbangan mencegah dampak buruk dari penyakit, dan hingga kini vaksin yang halal belum ada.

Berdasarkan data Dinkes Riau terkait cakupan vaksinasi MR hingga tanggal 30 Oktober, realisasi di Riau baru mencapai 40 persen atau sebanyak 782.263 anak. Daerah ini berada pada peringkat tiga terakhir dari 28 provinsi, dan realisasinya lebih baik dari Sumatera Barat yang mencapai 38 persen dan Aceh yang hanya 9,59 persen.

Baca Juga:   Setahun Sudah Jadi Model Wanita, Ini 7 Perubahan Drastis Gauri Arora yang Bikin Pangling

Kota Dumai menjadi daerah dengan cakupan MR terendah di Riau, yakni hanya 5,16 persen. Di daerah tersebut vaksinasi di Puskesmas sangat rendah secara keseluruhan, bahkan di Puskesmas Bukit Kayu Kapur sama sekali tidak ada anak divaksin MR dan di Puskesmas Purnama hanya satu anak.

Sedangkan, di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak, yang sebelumnya juga rendah, pada akhir Oktober ini hanya bisa meningkatkan capaian hingga 29,76 persen dan 25,89 persen. Cakupan MR paling tinggi di Kabupaten Kuantan Singingi yang mencapai 66,92 persen.

“Jumlah itu tidak akan banyak berubah lagi. Maksimal kenaikan cakupan dalam sehari itu hanya 0,8 persen. Saya sudah kehabisan kata-kata lagi. Semua sudah kita coba lakukan,” katanya.

Ia mengatakan pro dan kontra terhadap vaksinasi MR bahkan juga terjadi hingga internal organisasi perangkat daerah di Riau sehingga menimbulkan disrupsi, yang buntutnya realisasi rendah.

“Saya hanya bisa berdoa semoga anak-anak di Riau tidak sampai terserang penyakit dan tetap sehat. Dan semoga ke depannya, Kementerian Kesehatan bisa mempersiapkan program dengan lebih matang karena mayoritas penduduk kita muslim,” katanya.

Sabar Menunggu Halal Sejumlah warga Kota Pekanbaru yang memilih tidak memvaksin MR anak mereka menyatakan faktor halalnya vaksin menjadi alasan utama. Irvan, 34 tahun, warga Kecamatan Rumbai mengatakan tidak memvaksin dua anaknya dan sabar menunggu sampai ada vaksin MR yang halal.

“Kami lebih baik sabar menunggu. Anak saya yang paling tua umurnya sembilan tahun, dan batas vaksinasi MR sampai usia 15 tahun. Semoga tahun depan sudah ada ditemukan vaksin yang halal,” katanya.

Kepala Sekolah TK As-Syafi’iyah, Dewi Sukmatuti, mengatakan tidak mudah mengubah pola fikir orang tua murid meski sudah ada sosialisasi dari Puskesmas terkait Fatwa MUI tentang vaksinasi MR. Dari 44 anak di TK tersebut hanya ada satu orang yang divaksin.

Baca Juga:   Trump Desak Rusia dan Ukraina Buat Kesepakatan Damai

“Awalnya ada tiga yang daftar, tapi tiba-tiba mengundurkan diri jadi tinggal satu anak. Orang tua banyak yang ragu-ragu karena maraknya berita-berita tidak halal vaksin tersebar di media sosial,” katanya.

Wali murid memilih menunggu sampai ada vaksin halal ketimbang ragu-ragu dengan pilihan untuk memvaksin MR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *