3 Anak di bawah umur mau dipekerjakan sebagai pemandu karaoke & terapis

Rekanbola – Komisi Perlindungan anak Indonesia dan Polres Kota Bandara Soekarno-Hatta berhasil menggagalkan upaya perdagangan manusia. Kasus ini terungkap berawal dari bekas pekerja Royal Palace di Bali asal Bandung yang melapor ke kantor KPAI.

Komisioner KPAI Susanto menyatakan, ada pengiriman 3 anak di bawah umur untuk dipekerjakan menjadi terapis dan pemandu karaoke di Bali.

“Setelah kami berkoordinasi dengan Kepolisian Bandara, berhasil kami gagalkan upaya pengiriman anak yang akan dipekerjakan itu dengan penerbangan melalui Lion Air pukul 19.45 Wib pada Rabu 12 September 2018 kemarin,” tutur dia, Jumat (21/9).

Saat itu, ada tiga anak dan seorang dewasa yang akan dipekerjakan di Bali. Sementara satu orang berinisial IR (21), sebagai tersangka yang akan membawa mereka terbang ke Bali dari Bandara Soetta.

“Benar dari informasi itu, tiga di antaranya berusia di bawah umur yakni AF (17), AL (16) dan SM (16), sementara SN berusia 21 tahun. IR ini merekrutnya dari Jawa Barat. Seperti AF dan AL asal Bandung dan SM dari Garut,” ungkap Kapolres Bandara Kombes Victor Togi Tambunan.

Dari keterangan IR inilah didapat informasi, kalau ketiga perempuan tersebut termasuk korban yang di bawah umur, selanjutnya akan dipekerjakan di Royal Palace Bali. Royal Palace, lanjut Victor, merupakan tempat khusus hiburan karaoke dan pijat spa.

“Mereka akan dipekerjakan sebagai pemandu karaoke atau terapis. Dengan diiming-imingi penghasilan Rp 4,5 juta sampai 8 juta perminggu, makanya korban seperti tidak ada paksaan untuk ikut bekerja di Bali,” tuturnya.

Untuk memuluskan aksinya itu, jaringan ini, lanjut Victor, memalsukan data anak yang hendak dipekerjakan tersebut, dengan mengubah data akta lahir dan KTP korban.

Baca Juga:   Intip Foto Cantik Rose Yang Membuatnya Banjir Pujian Dari Fans Ini.

“Ada pelaku lain yang bertugas memalsukan itu, jadi korban ini bisa dengan mudah bekerja di sana. Sementara pemalsunya berinisial T kini dalam pengejaran kami,” ucap dia.

Dari pengungkapan itu, polisi menetapkan 3 orang tersangka yang memiliki peran berbeda dalam jaringan perdagangan manusia tersebut.

“Kami amankan 2 orang satu DPO berinisial T, yang diamankan IR dan IPB selaku pemilik usaha Royale Palace,” tuturnya.

Pelaku dijerat pasal berlapis tentang Perlindungan Anak dan Perdagangan Orang, dengan ancaman kurungan penjara maksimal 15 tahun.

Dari pelaku polisi menyita sejumlah alat bukti berupa transkip transaksi pekerja seks, foto-foto wanita pemandu karaoke, tiket Lion Air, CPU komputer, akta kelahiran, e-ktp palsu.