3 Mahasiswa ini meraih penghargaan Outstanding Delegate AMUNC 2018

Rekanbola – Mereka saling berdebat membicarakan isu-isu penting hingga menghasilkan resolusi

Sejak 2013, Djarum Foundation lewat Djarum Beasiswa Plus kerap memfasilitasi para mahasiswa berprestasi agar bisa tampil di kancah internasional.

Nah, tahun ini Djarum Foundation mengirim 10 mahasiswa ke Asia-Pacific Model United Nation Conference (AMUNC) 2018 di University of New South Wales, Sydney, Australia pada 8-12 Juli 2018.

AMUNC merupakan ajang debat tahunan yang diikuti lebih dari 500 mahasiswa di kawsan Asia Pasifik. Para peserta bergaya ala diplomat di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Uniknya para mahasiswa yang terlibat di ajang ini tidak mewakili negara asalnya lho. Justru mereka menjadi wakil negara lain. Jadi sebelum mereka berangkat ke ajang ini terlebih dahulu mengajukan secara online negara-negara yang akan diwakili.

Nah saat masuk dalam acara yang digelar selama lima hari ini mereka langsung masuk dalam komite yang diwakili. Mereka saling berdebat membicarakan isu-isu penting hingga menghasilkan resolusi. Meksi ini sebuah miniatur sidang PBB tapi para peserta mesti memiliki kemampuan mumpuni lho.

Yang menarik di ajang tahun ini, dari 10 mahasiswa Beswan Djarum, tiga diantaranya sukses menyabet Outstanding Delegate Award. Siapa saja mereka? Yuk simak.

1. Nur Pratama Abdi Muhammad (Universitas Airlangga)

Mahasiswa jurusan Ekonomi dan Bisnis ini masuk dalam komite United Nations Development Programme (UNDP). Dia mewakili Denmark. Ada dua topik yang dibicarakan mahasiswa peraih English Fiesta 2016 dan National University Debating Championship 2017 ini yaitu mencegah konflik regional melalui peningkatan keamanan air dan sukarelawan.

“Karena banyak negara berkonflik karena perebutan sumber daya alam terutama air. Seperti Palestina dan Israel selain memperebutkan Yerusalem juga ada konflik soal perebutan sungai,” katanya.

Baca Juga:   Ada Kode SSSS yang Misterius dalam Boarding Pass, Ini Artinya

 

2. Indra Setiawan (Universitas Diponegoro)

Mahasiswa jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini mewakili Kerajaan Brunei Darussalam dalam komite ASEAN. Dia membahas tiga topik yakni terkait hak azasi manusia, tumpang tindih Trans-Pacific Partnership dengan ASEAN Economic Community, dan penerimaan Timor Leste sebagai negara ke-11 ASEAN.

“Debat paling panas ketika bicara soal hak azasi manusia dan demokrasi. Apalagi Brunei kan negara monarki. Bukan negara demokrasi. Ini tantangan terberat saya untuk menjelaskan meski Brunei negara monarki tetapi tetap memiliki nilai demokrasi,” kata Indra.

 

3. Irvan Muhammad Yusuf (Institut Teknologi Bandung)

Mahasiswa jurusan Teknik Kelautan ini berada di komite Asia Pacific Ministerial Summit on The Environment dan mewakili Rusia. Dalam komite tingkat menteri lingkungan hidup ini ia membahas masalah sampah di laut dan agrikultur.

“Saya berusaha keras leading dalam berdebat. Apalagi Rusia dalam berbagai hal selalu ingin memimpin. Tantangan bahasa menjadi salah satu kendala yang harus kita hadapi,” tukas Irvan.

Semoga saja prestasi mereka diikuti para mahasiswa Indonesia yang lain ya.

 

( Sumber : detik.com )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *