Aksi Pasoepati Memboikot Persis 1000 Persen Didukung Wali Kota Solo

REKANBOLA – Persis Solo mendapatkan aksi boikot dari kelompok pendukung setianya, Pasoepati dan Surakartans, dalam mengarungi kompetisi Liga 2 2019. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mendukung aksi tersebut.

FX Hadi Rudyatmo mengaku setuju dengan sikap yang diambil kalangan pendukung Persis Solo.

Seperti diketahui, organisasi suporter Persis memilih jalan memboikot seluruh pertandingan, kecuali melawan PSIM Yogyakarta, pada musim 2019.

Keputusan diambil karena ketidakpuasan terhadap kinerja manajemen Persis. Hubungan suporter dengan manajemen klub juga kurang sehat, karena keinginan untuk bertemu selalu buntu.

Rudy menilai Persis mendapatkan balasan dari suporter sendiri sebagai bentuk kekecewaan. Ia sepakat boikot adalah sikap yang tepat untuk mengkritisi kondisi Persis saat ini.

“Saya setuju boikot. 1000 persen saya dukung. Sekarang Persis mau mengedepankan apa sebenarnya?” kata Rudy, Kamis (27/6/2019).

“Persis dan Pasoepati kan rumahnya di Solo, kenapa harus sampai ke Madiun,” lanjut sang wali kota.

Persis Solo dihadapkan dengan situasi yang rumit sejak pengelolaan diambil alih Sigid Haryo Wibisono. Tim berjulukan Laskar Sambernyawa ini menjadi musafir sejak pertengahan musim 2018.

Manajemen Kurang Komunikatif

Stadion Manahan yang sedang direnovasi, membuat Persis mencari stadion lain. Sebenarnya Solo memiliki Stadion Sriwedari yang cukup bersejarah, namun pihak keamanan tidak memberikan rekomendasi.

Manajemen Persis juga dinilai kurang menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah Solo untuk penyediaan sarana penunjang seperti tempat latihan.

Hal ini membuat anak asuh Agus Yuwono itu sering berlatih hingga di beberapa lapangan di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo.

Menurut Rudy, Pemkot Solo sebenarnya siap membantu menyiapkan infrastruktur, seandainya manajemen klub serius ingin berkandang di Stadion Sriwedari.

Baca Juga:   Juan Sebastian Veron: Semoga Lionel Messi Bisa Loloskan Argentina

“Dulu tidak diizinkan karena masih ramai Pemilu, sekarang kan sudah selesai. Solo juga punya lapangan kenapa harus ke sana-kemari?” pungkas mantan anggota Komite Normalisasi PSSI tersebut.