Alasan-alasan yang Mendorong Aksi Bunuh Diri

Rekanbola – Dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri tepat pada 10 September setiap tahunnya. Peringatan ini digelar untuk menyadarkan warga dunia bahwa bunuh diri bisa dicegah.

Bunuh diri bisa menyerang siapa saja, tak mengenal usia, jenis kelamin, kelas sosial, dan profesi.

Belum lama ini, seorang bocah berusia 9 tahun di Amerika Serikat bunuh diri lantaran menghadapi perundungan dari teman-teman sebayanya. Ditambah lagi sederet nama tersohor yang tewas akibat bunuh diri dalam kurun waktu sekira satu tahun ke belakang.

Pertanyaannya kemudian, mengapa dorongan bunuh diri itu bisa muncul? Secara garis besar, dokter sekaligus penulis yang fokus pada kesehatan jiwa, Alex Lickerman, memberikan enam alasan orang mencoba bunuh diri.

1. Depresi

Depresi adalah alasan umum di balik aksi bunuh diri. Saat depresi, seseorang akan merasa menderita sehingga bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar dari situasi tersebut.

“Tahap depresi bisa menyesatkan pemikiran mereka. Kemudian, muncul ide seperti ‘semua orang akan lebih baik tanpa saya’. Dia akan mencoba untuk membuatnya masuk akal,” kata Lickerman dikutip dari Psychology Today.

Depresi, kata Lickerman, bisa disembuhkan melalui pengakuan dari orang-orang terdekat. Namun, sayangnya penderita depresi biasanya merencanakan aksi bunuh diri mereka dalam senyap dan tanpa diketahui orang.

Lickerman menyarakan, jika Anda merasa curiga dengan tanda depresi pada orang terdekat, sebaiknya bersiap dengan kemungkinan aksi bunuh diri yang dilakukan. Jika kesadaran itu telah muncul, Anda bisa membantunya menangkal keinginannya untuk mengakhiri hidup.

2. Gangguan jiwa

Penderita psikosis alias gangguan jiwa berat mengalami delusi. Mereka kerap mendengar suara-suara tak nyata yang memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu, termasuk bunuh diri tanpa alasan jelas.

Baca Juga:   Tim Dokter Dibuat Kerepotan Ada Gelas Nyangkut di Badan Pria Ini

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa psikosis bisa disembuhkan. Jika ditangani dengan baik, suara-suara yang didengar penderita bakal kehilangan kekuatannya.

3. Dorongan impulsif

Aksi percobaan bunuh diri terkadang dilakukan sebagai tindakan impulsif akibat pengaruh obat-obatan atau alkohol.

Saat sadar, orang-orang dengan dorongan impulsif ini akan merasa malu atas apa yang dilakukannya. Namun, kebiasaan impulsif ini bisa saja terulang kembali dengan tak terduga.

“Mereka bisa mencobanya lagi saat mereka mabuk,” ujar Lickerman.

4. Mencari pertolongan tapi tak tahu caranya

Sebagian orang melakukan aksi percobaan bunuh diri lantaran tak tahu bagaimana caranya mendapat pertolongan.
Lickerman menyebut, orang-orang jenis ini sesungguhnya tak memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Aksi percobaan bunuh diri dilakukan hanya untuk mengingatkan orang-orang sekitar bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

“Saya telah menyaksikan lebih dari satu remaja meninggal dengan mengerikan di ruang ICU setelah menyesali aksi percobaan bunuh dirinya,” ujar Lickerman.

5. Ada hasrat untuk mati

Bagi sebagian orang, keputusan untuk mengakhiri hidup menjadi masuk akal. Orang-orang jenis ini biasanya termotivasi oleh penyakit kronis yang dideritanya. Mereka menganggap tak ada harapan sembuh dari penyakit yang diderita.

Orang-orang jenis ini, kata Lickerman, tidak mengalami gangguan mental. Mereka mencoba untuk mengontrol takdir dan menghilangkan penderitaan yang terkadang hanya bisa terjawab dengan kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *