Angkasa Pura I Ambil Alih 7 Pengelolaan Bandara

REKANBOLA PT Angkasa Pura I (Persero) terus menambah jumlah bandara yang akan dikelolanya. Saat ini, perusahaan pelat merah tersebut telah mengelola sebanyak 13 bandara di Indonesia.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan Angkasa Pura I, Devi Suradji, mengatakan sejumlah bandara yang akan diambil alih oleh Angkasa Pura I untuk dikelola dan dikembangkan yaitu Samarinda, Sentani dan Palu. Selain itu, Sorong, Labuan Bajo, Tarakan dan Luwuk.

“Bandara Angkasa Pura I sekarang baru 13. Kita baru tanda tangan MoU untuk Samarinda, Sentani dan Palu. Kita masih harus tanda tangan untuk Sorong, Labuan Bajo dan Tarakan. Luwuk masuk juga, tetapi masih kajian,” ujar dia di Hong Kong, Sabtu (22/9/2018).

Namun demikian, lanjut dia, hal ini bukan sekadar masalah pengambilalihan hak kelola, tetapi juga bagaimana membangun destinasi wisata di sekitar bandara-bandara tersebut. Hal ini penting agar pergerakan penumpang di bandara tersebut terus meningkat.

“Saat mengambil alih bandara, bukan hanya sekedar mengambil, tetapi bagaimana juga membangun destinasinya. Kalau tidak, bandaranya tidak akan hidup,” kata dia.

Misalnya, kata Devi, pembangunan bandara Kulonprogo yang juga harus disertai dengan pengembangan aeropolis dan konektifitasnya agar mudah dijangkau oleh masyarakat.

“Contoh Semarang, kenapa kita membangun berbagai transportasi moda, karena karakter masyarakatnya berbeda. Ada yang datang ke bandara untuk plesir. Mungkin bangga dengan bandaranya. Tetapi di sisi lain memang jarak antara Bandara Ahmad Yani dan kota Semarang dekat, jadi kemudahan orang keluar masuk membuat bandara tersebut menjadi destinasi sendiri,” ujar dia.

AP I Siap Kelola Bandara Sentani dan Palu

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I (Persero) atau disebut AP I menandatangani kesepakatan bersama dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terkait rencana kerja sama dan penyusunan kajian pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu pada Kamis 6 September 2018.

Baca Juga:   3 Kiat cepat mendapatkan pekerjaan untuk para fresh graduate

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Pramintohadi Sukarno.

Nota kesepahaman ini merupakan landasan awal atas rencana kerja sama dan bertujuan untuk menyusun kajian rencana pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu yang saling menguntungkan, efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Angkasa Pura I siap menerima penugasan untuk mengelola Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu dan mengembangkannya secara komersial bersamaan dengan peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa bandara. Hal ini juga diharapkan dapat menstimulus pengembangan daerah yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian daerah,”  kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi kepada wartawan.

Adapun ruang lingkup kesepakatan bersama ini adalah rencana kerja sama pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang meliputi pemanfaatan barang milik negara dengan pola Kerja Sama Pemanfaatan (KSP).

Pada kesepakatan bersama ini, PT Angkasa Pura I (Persero) akan mengeksplorasi peluang kerja sama Bandar Udara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang berkelanjutan dengan menyusun proposal kerja sama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura.

Termasuk di dalamnya rencana investasi sesuai rencana induk bandar udara dan rencana investasi sesuai proposal kerja sama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura yang diajukan.

“Hasil kajian ini nantinya akan dievaluasi oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan dijadikan dasar pertimbangan untuk pembuatan perjanjian kerja sama. Kami harap rencana pengalihan pengelolaan secara komersial kedua bandara di timur Indonesia ini akan membawa kontribusi positif terhadap pemerataan pengembangan perekonomian daerah,” pungkas Faik Fahmi.

Baca Juga:   10 Besaran Upah Buruh di Dunia, Benarkan Indonesia Paling Rendah?