Bappenas: Produktivitas Pekerja Indonesia Rendah Buat Pertumbuhan Ekonomi Stagnan

REKANBOLA – Staf Ahli Kementerian Perencanaan dan pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Priambodo membeberkan penyebab pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih relatif stagnan. Salah satu faktornya adalah tingkat produktivitas Indonesia yang masih tertinggal dari negara lain.

“Berdasarkan diagnosis kami, cerita utama di balik pertumbuhan ekonomi yang stagnan adalah kisah produktivitas,” katanya dalam Seminar Indonesia Economic Outlook, di Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin (11/11).

Bambang mengungkapkan, tingkat produktivitas Indonesia tidak tumbuh cepat dibandingkan negara-negara lain. Misalnya saja pada penggerak utama produktivitas pada transformasi struktural dari sisi ketenagakerjaan di Indonesia.

“Lebih dari 30 persen tenaga kerja bekerja di sektor pertanian,” imbuhnya.

Di sisi lain, produktivitas dalam sektor industrialisasi juga masih belum menunjukkan geliatnya, terutama di sektor ekspor. Meskipun pangsa industri manufaktur masih pada tingkat yang relatif tinggi, tetapi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, pangsa industri manufaktur turun terlalu dini.

“Buruknya kinerja industri manufaktur memiliki dampak yang jelas terhadap kinerja perdagangan internasional. Jika kita melihat apa yang kita ekspor, setelah 40 tahun, ekspor kita masih didominasi oleh komoditas,” katanya.

Padahal kata Bambang, sejak 1970-an, Malaysia dan Thailand juga mengandalkan komoditas dalam ekspor mereka. Namun sekarang bagian terbesar dari ekspor mereka adalah elektronik yang menunjukkan perbaikan.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2018 sebesar 5,17 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2018 sebesar 5,27 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2018 dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, harga komoditas non migas yang mengalami penurunan.

“Harga komoditas nonmigas mengalami penurunan. Migasnya naik, nonmigas menurun. Misal terjadi penurunan untuk beberapa komoditas pertanian seperti daging sapi, minyak sawit, kopi, teh menurun baik qtq atau yoy,” ujar Suhariyanto di Kantor BPS.

Baca Juga:   Bos PLN: Proyek Listrik di Pedalaman Belum Bisa Pakai B20