BI Optimistis Rupiah Akan Terus Menguat, Ini Sebabnya

REKANBOLA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus menunjukkan tren positif. Beberapa waktu terakhir, bahkan Rupiah berhasil menguat dan meninggalkan posisinya di level Rp 15.000 per USD.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengaku optimistis nilai tukar Rupiah hingga akhir tahun masih akan mengalami penguatan. Hal ini dorong oleh faktor pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih akan tumbuh dan inflasi yang terkendali.

“Bicara nilai tukar dari data domestik yang positif, CAD kita lemah, tapi jangan lihat rentang ke belakang, (tapi) ke depan. Bank sentral kemampuan melihat ke depan untuk tentukan kebijakan,” kata Dody dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Nasional, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/11).

Dody menyebut pergerakan Rupiah yang tidak lagi melemah ini karena memang nilai kursnya murah. Sehingga penguatan ini diyakini akan terus berlanjut. “Rupiah masih undervalued (terlalu murah). Namun masih cukup kompetitif untuk perdagangan,” imbuhnya.

Dody mengatakan, penguatan terhadap mata uang Garuda ini juga ditopang oleh faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri misalnya, sejumlah kebijakan untuk memperkuat Rupiah telah ditempuh, salah satunya keputusan BI yang kembali menaikan BI 7- Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) menjadi 6,00 persen.

“Prinsip kita preemptivedan ahead the curve tidak lepas. Dengan dasar ini, kita naikkan suku bunga 2 hari lalu. Kita harus ahead the curve,” ungkapnya.

Sementara, dari sisi globalnya, lanjut Dody pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dijadwalkan pada akhir tahun nanti akan berdampak positif. Terutama untuk meredam perang dagang antar kedua negara tersebut, sehingga momen itu diharapkan bisa membuat ketenangan di pasar keuangan.

Baca Juga:   Rupiah Dibuka Menguat di Level Rp 14.239 per USD

“Feeling saya positif dengan pertemuan Presiden AS dan Presiden China. ini akan menenangkan pasar keuangan,” pungkasnya.