BI Sebut Dolar AS Bisa di Bawah Rp 14.000, Ekonom: Cuma Berdoa

REKANBOLA – Bank Indonesia (BI) yakin nilai tukar rupiah tahun ini akan lebih baik. Bahkan diprediksi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah akan meninggalkan level Rp 14.000.

Prediksi itu dipertanyakan oleh Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri. Menurutnya prediksi itu hanya berdasarkan doa saja, yakni mengharapkan masuknya dana asing.

“Terus Gubernur BI katakan optimis di bawah Rp 14.000 tapi dengan doa bukan usaha. Doanya apa? Modal asing datang terus. Itu kan doa bukan usaha. Tadi dia katakan rupiah menguat karena modal asing kuat,” dalam acara Economic Outlook 2018 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Hotel Westin, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Faisal menilai, sikap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pernyataannya itu terlalu menganggap enteng dalam menjaga nilai tukar rupiah. Menurutnya Gubernur BI seharusnya tahu bahwa jantung perekonomian Indonesia masih bermasalah.

“Bagaimana kita tumbuh lebih dari 5% yang sekarang kalau rasio kredit terhadap PDB cuma 40%, 2018 35,2%. China itu 215%, Afsel di atas 100%, Vietnam di atas 100%. Itu yang bapak ibu butuhkan. Ini ngomong ngalor ngidul nggak karuan, ngeri saya,” tambahnya.

Menurutnya seharusnya BI berbicara bagaimana memperkuat nilai tukar rupiah dengan memperkokoh sektor riil. Dengan begitu bisa memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit.

“Tidak ada yang bicara bagaimana defisit perdagangan kita itu sudah tertinggi sepanjang sejarah tahun lalu. Tidak ada yang peduli tingkatkan industri manufaktur tambah lama tambah rendah yang 30% menyumbang pajak,” tutupnya.

Baca Juga:   7 Tips Mengubah Passion Menjadi Bisnis, Sudah Siap Sukses?