Bolehkah Minum Urin Unta untuk Obat?

RekanBola.com – Bagi sebagian umat Islam, terlebih yang tinggal di kawasan Teluk dan Timur Tengah, ada kebiasaan meminum urin unta. Salah satu alasannya, urin unta memiliki khasiat tertentu untuk menyembuhkan penyakit.

Tentu hal ini tidak lazim dilakukan oleh Muslim lainnya. Apalagi mereka yang tinggal di negara yang bukan habitat unta.

Muncul pertanyaan bagaimana para ulama fikih mengkaji hal ini, mengingat urin termasuk benda yang keluar dari lubang kemaluan yang tergolong najis?

Dikutip dari rubrik Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama, para ulama membagi benda najis dalam dua kategori. Pertama, benda yang disepakati najis oleh jumhur ulama seperti daging babi, darah, air kencing manusia, muntahan dan kotoran manusia, khamr, nanah, dan lain sebagainya.

Kedua, benda yang kenajisannya masih menjadi perdebatan di antara para ulama. Beberapa di antaranya seperti anjing, kulit bangkai, air kencing anak kecil yang belum makan apa-apa selain ASI, mani, cairan pada nanah, termasuk juga urin unta.

Syeikh Wahbah Az Zuhayli memberikan penjelasan cukup rinci mengenai hal ini dalam kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuh.

” Jenis kedua adalah najis yang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ahli fikih berbeda pendapat perihal status najis sejumlah benda ini… Salah satunya adalah air kencing, kotoran, dan zat sisa tubuh hewan yang boleh dimakan. Di sini pandangan ulama fikih terbelah menjadi dua. Satu pandangan menyatakan suci. Sementara pandangan lainya menyatakan najis. Pandangan pertama dianut oleh madzhab Maliki dan Hanbali. Sedangkan pandangan kedua diwakili oleh madzhab Hanafi dan madzhab Syafi’i.”

Mazhab Maliki dan Hambali berpandangan air kencing dan kotoran hewan halal dimakan tidak najis. Bagi Mazhab Maliki, status hukum air kencing dan kotoran hewan didasarkan pada apa yang dikonsumsi hewan itu.

Baca Juga:   Keren! Resto Ini Punya Meja Instagram dengan Fitur Canggih

Dasar pandangan ini adalah hadis tentang izin yang diberikan Rasulullah SAW kepada kaum Urani untuk mengonsumsi urin unta dan susu unta.

Sementara Mazhab Hanafi dan Syafi’i berpandangan urin dan kotoran hewan halal tetaplah najis. Dalam pandangan dua mazhab ini, urin dan kotoran adalah benda yang keluar dari lubang kemaluan. Meski daging hewannya halal, urin dan kotoran tetaplah haramdikonsumsi.

Dasarnya adalah hadis Rasulullah yang menyatakan kotoran hewan adalah najis. Sementara terkait hadis tentang izin Rasulullah kepada kaum Urani sebagai bentuk kedaruratan. Hal ini dijelaskan gamblang oleh Syeikh Az Zuhayli.

” Madzhab Syafi’i dan Hanafi berpendapat bahwa air kencing, muntah, dan kotoran baik hewan maupun manusia mutlak najis sesuai perintah Rasulullah SAW untuk membasuh air kencing Arab badui di masjid, sabda Rasulullah SAW perihal ahli kubur, ‘salah satunya tidak bersuci dari air kencing,’ sabda Rasulullah SAW sebelumnya, ‘Bersucilah dari air kencing,’ dan hadits sebelumnya bahwa Rasulullah SAW–ketika dua buah batu dan sepotong kotoran binatang yang mengering dihadirkan di hadapannya untuk digunakan istinja–mengambil kedua batu, dan menolak kotoran. ‘Ini adalah najis,’ kata Rasulullah SAW. Sementara muntah–sekalipun tidak berubah bentuk adalah sesuatu yang keluar dari dalam perut–adalah najis karena ia termasuk sisa tubuh yang ‘berubah’ seperti air kencing. Hal ini sama najisnya dengan lendir yang keluar dari dalam perut. Lain soal dengan lendir yang turun dari kepala, pangkal tenggorokan atau dada. Lendir ini suci. Sedangkan terkait perintah Rasulullah kepada warga Uraniyin untuk meminum air kencing unta, maka ini berlaku untuk pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis boleh ketika obat dari benda suci tidak ditemukan dan benda najis dapat menggantikannya.”

Sementara jika ditilik dari segi medis, dr Wiwid Santiko dalam dalam laman doktermuslim.com, menyebutkan memang ada beberapa penelitian terkait urin unta. Seperti penelitian Al Youseff dan tim dari Departemen Molekular Onkologi Rumah Sakit King Faisal Arab Saudi.

Baca Juga:   Mengorbankan Semua Yang Kita Miliki Dahulu, Baru Meraih Keberhasilan

Penelitian itu menyebutkan urin unta mempunyai agen antikanker spesifik dan efisien. Selain itu, urin unta berpotensi sebagai immunomodulator pada kondisi invitro, yaitu setting penelitian pada tahap jaringan sel.

Penelitian tersebut menemukan urin unta menunjukkan efek sitotoksik, namun tidak pada semua jaringan sel. Urin unta memiliki potensi sebagai anti-kanker.

Meski demikian, dr Wiwid tidak menganjurkan meminum urin onta. Ini mengingat penelitian terkait urin unta masih sangat terbatas sehingga belum dapat dijadikan rujukan dalam dunia medis.

Berita Menarik Lainnya :

Kesal Disebut Kekanak-kanakan, Mahasiswa Tenggak Obat Nyamuk

Jangan Remehkan Kaos Kaki, Ini 6 Manfaat Saat Terbiasa Memakainya

Siasat Atasi Godaan Berhubungan Seks Bagi Pasangan LDR

 

Hasil gambar untuk MInion logo