Bukan karena Gempa, Ini yang Bikin Wisatawan Tinggalkan Lombok

Rekanbola-  Setelah terjadi gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisoka (BMKG) memberikan informasi mengenai adanya potensi tsunami. Informasi tersebut membuat banyak wisatawan resah dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Lombok.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Abdul Hadi Faishal mengaku mendapat dampak yang luar biasa. Keresahan dari wisatawan tersebut mengakibatkan eksodus besar besar besaran.

“Nah sebetulnya kalau nggak ada rilis mengenai tsunami maka eksodusnya nggak bakal seperti ini. Ini besar besaran eksodusnya, tetapi kalau tamu-tamu ini mau berdiam kami bisa tangani kami bisa cover karena gini kerusakan yang terjadi di dalam hotel juga nggak banyak,” kata dia kepada , Selasa (7/8/2018).

Ia menjelaskan, kerusakan yang terjadi di dalam gedung dan hotel di Lombok tidak banyak.

“Kerusakannya hanya retakretak kecil itu memang harus diselesaikan tapi dari kerusakan yang ada itu tidak menimbulkan masalah yang memang membuat tamu tidak nyaman. Yang membuat tamu tidak nyaman itu adalah bukan persoalan hotelnya tapi peroalan isu yang,” ujar dia.

Dari kondisi tersebut Lalu menjelaskan, okupansi hotel sampai turun hingga 70% per hari Senin. Dari adanya gempa tersbeut kata dia, para wisatawan eksodus besar besaran untuk segera keluar dari Lombok menuju beberapa pulau lain.

” Justru karena isu tsunami yang eksodus ada 70% dan yang cekin 20% karena kan kita biasanya sebaliknya kalau nggak ada gemapa dengan tingkat okupansi hotel kita ini tertinggi secara nasional,” kata dia.

Hingga kemarin masih ada sekitar 25% sistem listrik di Lombok masih padam di kawasan Lombok. Kondisi ini sudah jauh lebih baik karena dari total beban pelanggan PLN terlayani 99 MW, hingga malam masih tersisa 50 MW atau sekitar 50% masih padam semalam.

Baca Juga:   Akhir pekan, harga emas Antam naik Rp 3.000 jadi Rp 658.000 per gram

Gempa bumi tersebut awalnya dilaporkan terjadi pada Minggu (5/6) pukul 18.46 WIB dengan kekuatan 6,8 SR dan tidak menimbulkan tsunami. Namun, BMKG kemudian melakukan pemutakhiran informasi dan menyebut gempa tersebut berkekuatan 7 SR dan berpotensi tsunami.

 

( Sumber : detik.com )