Capai Impor Tertinggi Sejak 2008, Mayoritas Barang dari China

rekanbola – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor  bulanan pada Juli 2018 tercatat di angka US$18,27 miliar. Angka ini merupakan impor bulanan tertinggi sejak 10 tahun terakhir.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan mayoritas impor ini berasal dari China dengan nilai US$4,26 miliar. Angka ini disusul oleh impor dari Jepang senilai US$1,82 miliar dan Thailand dengan nilai US$1,01 miliar.

Suhariyanto mengaku kenaikan impor dari China bersifat signifikan. Pertumbuhannya secara bulanan melonjak hampir dua kali lipat, tepatnya mencapai 93,44 persen dari posisi bulan lalu yakni US$2,20 miliar. Pertumbuhan ini disebabkan arus barang modal penunjang infrastruktur yang cukup tinggi dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

Tercatat, Indonesia mengimpor mesin dan pesawat mekanik paling besar dari China dengan nilai US$904,68 juta atau melonjak 85,48 persen dari bulan sebelumnya yakni US$487,74 juta.

Tak hanya itu, Indonesia juga mencatat impor tertinggi dari mesin peralatan listrik dengan nilai US$835,2 juta. “Selain itu pertumbuhan impor apel dari China ke Indonesia juga cukup besar,” papar Suhariyanto di Gedung BPS, Rabu (15/8).

Selain China, pertumbuhan impor tertinggi lain juga berasal dari Jepang dan Amerika Serikat dengan nilai masing-masing US$786,5 juta dan US$385,8 juta. Namun, nilai itu tak sebanding dengan impor China yang bertambah US$2,06 miliar.
Sehingga secara kumulatif, impor China dari Januari hingga Juli tercatat US$24,83 miliar dan menyumbang 27,39 persen dari total impor nonmigas. Tak heran, defisit neraca perdagangan Indonesia juga cukup besar, yakni US$10,34 miliar.

“Secara negara asal impor tidak berubah, China jadi negara pengimpor paling besar,” papar dia.

Ekspor ke AS Melesat

Baca Juga:   Mendagri: 60% Masyarakat Mau Lagi Gubernur yang Sudah 2 Periode

Sementara itu, gesekan-gesekan perdagangan yang terjadi dengan AS selama ini tak menyurutkan ekspor Indonesia ke negara Paman Sam tersebut. Bahkan, Suhariyanto menyebut pertumbuhan ekspor bulanan ke AS merupakan yang tertinggi dibanding negara lainnya.

BPS mencatat nilai ekspor ke AS pada Julli terbilang US$1,56 miliar atau naik 37,96 persen dibanding Juni sebesar US$1,13 miliar. Beberapa komoditas ekspor Indonesia ke AS terdiri dari pakaian dan aksesori pakaian senilai US$409,17 juta. Selain itu, ekspor Indonesia ke AS juga didorong oleh karet dengan nilai US$146,23 juta.

Meski demikian, AS bukanlah destinasi ekspor terbesar dari Indonesia. Posisi itu masih dipegang China dengan nilai ekspor US$2,19 miliar.

Tingginya pertumbuhan ekspor ke AS membuat neraca perdagangan dengan AS dalam kondisi surplus US$4,71 miliar. “Memang pertumbuhan ekspor ke AS ini bisa dibilang cukup menggembirakan,” pungkas dia.