Cegah Teror Asian Games, Jepang Pasang Deteksi Wajah di GBK

Rekanbola – Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono mengatakan pemerintahnya sepakat memperkuat kerja sama penanggulangan terorisme dengan Indonesia, salah satunya dengan menghibahkan sistem pendeteksi wajah canggih untuk dipasang di Stadion Gelora Bung Karno.

Kono mengatakan pemasangan sistem pendeteksi itu dilakukan sebagai bentuk peningkatan pengamanan menjelang gelaran Asian Games pada pertengahan Agustus hingga September tahun ini.

“Akhir tahun lalu Jepang telah memberikan sejumlah sistem keamanan biometrik untuk dipasang di Stadion GBK demi melancarkan gelaran Asian Games. Ini bukti kedua negara terus mempererat kerja sama penanggulangan terorisme,” ucap Kono kepada wartawan di Jakarta usai bertemu dengan Menlu RI Retno Marsudi, Senin (25/6).

“Jepang terus mendukung aktivitas pemerintah Indonesia dalam melawan serta menanggulangi kekerasan ekstremisme dengan terus menyediakan sistem-sitem keamanan terkait.”

Terpisah, Direktur Asia Timur dan Pasifik Kemlu RI, Edi Yusup, membenarkan bahwa sistem pengamanan itu telah dipasang di GBK sejak beberapa waktu lalu.

Edi mengatakan sistem biometrik canggih itu disebut mampu mendeteksi wajah dan identitas puluhan hingga ratusan orang dalam satu waktu. Dia mengatakan alat jenis ini baru dipasang di GBK saja.

Selain itu, kata Edi, dalam pertemuan itu Retno dan Kono sepakat meningkatkan intensitas kerja sama pembangunan kapasitas dalam bidang terorisme dengan memperbanyak pelatihan bagi otoritas terkait dari masing-masing negara.

Kedua negara, papar Edi, juga tengah menyiapkan satu paket kerja sama penanggulangan terorisme yang rencananya akan ditawarkan Perdana Menteri Shinzo Abe saat Presiden Joko Widodo bertandang ke Jepang nanti.

“Paket ini masih tahap awal masih terus digodok, akan diputuskan pada tingkat kepala negara,” kata Edi tanpa merinci teknis rencana tersebut.

Baca Juga:   Polisi Dalami Motif Maswan Menghina Nabi Muhammad di Facebook

Selain isu terorisme, Retno dan Kono juga mendiskusikan upaya penguatan kerja sama Indonesia-Jepang dalam bidang ekonomi, perdagangan, investasi, hingga pariwisata.

RI dan Jepang juga sepakat mempercepat sejumlah proyek investasi dan pembangunan infrastruktur di Indonesia seperti pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, hingga pembangunan pelabuhan Patimban di Subang, jawa Barat.

Jepang sepakat menjadikan Indonesia basis produksi manufaktur yang ditujukan untuk pasar ketiga, termasuk negara ASEAN. Dengan kebijakan ini, proses ekspor produk-produk Jepang seperti kendaraan dan elektronik ke negara ketiga bisa lebih maksimal.

“Indonesia dan Jepang bukan hanya mitra strategis, tapi dua negara strategis di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Jepang merupakan mitra dagang dan investasi kedua terbesar bagi Indonesia,” kata Retno.

Retno mengatakan keduanya juga setuju menggenjot sektor pariwisata masing-masing demi menarik turis dari masing-masing negara hingga 1 juta orang.

Selain isu bilateral, Retno dan Kono turut membicarakan sejumlah isu regional dan global yang menjadi perhatian kedua negara.

Retno memaparkan beberapa isu yang cukup banyak dibahas antara lain mengenai perkembangan terkini di Semenanjung Korea, bantuan bagi Palestina dan perkembangan negosiasi kode etik atau code of conduct ASEAN-China terkait Laut China Selatan.

“Jepang-Indonesia memiliki posisi yang sama dalam menyikapi perkembangan terkini di Semenanjung Korea. Kedua negara terus mendorong perlucutan senjata nuklir sepenuhnya di kawasan itu,” ucap Retno.

“Sementara soal Laut China Selatan, kedua negara juga mendorong percepatan negosiasi CoC karena kami khawatir akan militerisasi China di kawasan tersebut.”

 

 

(Sumber : cnnindonesia.com)