Cerita Dubes Inggris untuk Indonesia Diskusi soal Islam di Gontor

REKANBOLA –  Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik beberapa hari lagi akan meninggalkan Tanah Air. Malik akan menanggalkan jabatannya sebagai Dubes Inggris untuk Indonesia beberapa hari lagi.

Sebelum meninggalkan Indonesia, Malik menggelar acara perpisahan di grand ballroom Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019) malam. Sejumlah tokoh nasional di antaranya Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Presiden RI era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Boediono, Gubernur DKI Anies Baswedan dan Ketum NasDem Surya Paloh hadir dalam acara tersebut.

Acara perpisahan Moazzam Malik.:

 

Dalam acara tersebut Malik menceritakan pengalamannya selama di Indonesia. Dia bercerita mengenai kunjungannya ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, hingga ke Kampung Inggris Pare di Kediri.

“Malam yang saya lewatkan di Pesantren Gontor, bicara dengan 4.000 pelajar tentang muslim di Inggris dan apa yang bisa kita pelajari dari satu sama lain. Komitmen mereka mengenai kebebasan telah menjadi inspirasi bagi saya,” kata Malik.

“Kiai Hasan jelaskan kepada saya pada malam itu, tanpa adanya kebebasan berpikir dan kebebasan bertindak, maka tidak ada kemajuan. Dan institusi pendidikan dan pendidikan muslim menjadi dasar terbaik atas kemajuan,” imbuhnya.

Malik juga meyakini ekonomi Indonesia akan bersaing dengan negara-negara lainnya. Dia juga menilai Indonesia sebagai negara yang menginspirasi masyarakat dunia.

“Saya akan menjagokan Indonesia di Asia ini sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, negara demokrasi terbesar ketiga. Dari sisi ekonomi yang akan menjadi negara dengan ekonomi 10 teratas dalam 10 tahun ke depan. Dan negara yang terlahir dengan perbedaan, baik dari etniknya, bahasanya yang menginspirasi, perbedaan yang memang unik dan juga negara ini memiliki potensi untuk menginspirasi masyarakat dunia,” jelasnya.

Baca Juga:   12 Potret kreatifnya orang Indonesia ini bikin cengar-cengir sendiri

Malik mengingatkan pemerintah Indonesia soal kewajiban melindungi kaum minoritas. Dia juga berharap melanjutkan reformasi ekonomi dengan membuka peluang kerja sama bersama perusahaan internasional.

“Ketiga pendidikan, karena pada akhirnya kemampuan Indonesia bersaing tergantung SDM. Sayangnya, Indonesia tidak memiliki universitas dalam peringkat 200 teratas dunia. Sementara G20 menetapkan untuk menjadi 10 besar dunia. Ini adalah sesuatu yang harus diubah,” tuturnya.

Selanjutnya tentang perubahan iklim. Malik bicara soal potensi Indonesia sebagai negara penghasil polisi gas kelima di dunia.

“Dan terakhir, saya berharap Indonesia lebih aktif di dunia internasional. Sebagai negara G20 di dunia yang tidak stabil dan tidak bisa diprediksi, kami butuh peran Indonesia untuk membentuk rule internasional, bekerja bersama kami dalam berbagai perbedaan secara damai. Kami butuh rangkulan dari pemimpin dunia di general assembly, di UNSC, di G20 dan forum internasional lainnya,” papar Malik.