Dana Asing ‘Kabur’ Rp 48 Triliun

REKANBOLA –     Investor asing masih terus melakukan penarikan dana dari pasar modal. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) total dana asing yang keluar dari pasar modal sejak awal tahun sudah mencapai Rp 48,03 triliun.

Bukan tanpa alasan investor asing mulai menarik dananya dari Indonesia. Ada beberapa penyebab, mulai dari naiknya suku bunga di Amerika Serikat (AS) hingga kondisi makro ekonomi Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan melakukan antisipasi jika keluarnya dana asing terus berlanjut. Salah satunya dengan memperkuat basis investor domestik. (ang/ang)

 

Menurut keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (5/8/2018). IHSG pada periode 30 Juli sampai dengan 3 Agustus 2018 mengalami peningkatan sebesar 0,31%, dari 5.989,14 di pekan sebelumnya ke posisi 6.007,54.

Namun BEI mencatat, pada pekan ini investor asing melakukan jual bersih senilai Rp 1,11 triliun. Untuk sepanjang tahun 2018 investor asing sudah melakukan jual bersih senilai Rp 48,03 triliun.

Meski begitu rata-rata nilai transaksi harian perdagangan BEI pekan ini naik 68,57%, dari Rp 6,96 triliun menjadi Rp 11,73 triliun.

Peningkatan juga terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian saham yaitu sebesar 15,11% menjadi 426.312 kali transaksi dari 370.346 kali transaksi di minggu sebelumnya.

Rata-rata volume transaksi harian juga mengalami peningkatan sebesar 9,47 persen dari 9,95 miliar menjadi 10,89 miliar unit saham.

Nilai kapitalisasi pasar BEI juga mengalami peningkatan sebesar 0,33% dari Rp 6.747,50 triliun menjadi Rp 6.769,96 triliun.

Menurut Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali setimen yang mendorong keluarnya dana asing masih terkait rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed. Banyak dari dana asing yang kemudian di tempatkan di AS untuk mengejar imbal hasil dan risiko yang lebih baik.

Baca Juga:   Harga emas Antam naik Rp 7.000 menjadi Rp 677.000 per gram

“Dulu kita interest rate masih turun jadi investor merasa risiko investasi di Asia Tenggara masih lebih tinggi sedangkan imbal hasil di US malah makin baik,” terangnya kepada detikFinance.

Selain itu, menurut Frederik ada kemungkinan juga investor asing khususnya institusi mulai mengambil untung setelah menempatkan dananya beberapa tahun di Indonesia.

“Kita rally sudah sejak tahun 2015 waktu IHSG masih 4000an. Lalu siklus dari 1994 setiap Agustus seharusnya koreksi, namun 2 tahun terakhir tidak ada koreksi. Mungkin saja memang belum ada yang take profit saat itu,” tambahnya.

Sementara untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Frederik memprediksi akan mulai kembali ke jalur positif pada bulan depan. Sebab saat ini masih ada beberapa sektor perusahaan yang belum menerbitkan laporan kinerja keuangan semester I-2018.

“Seperti saat ini tambang masih belum semuanya rilis laporan keungan padahal banyak kapitalisasi besar juga,” tuturnya.

Jika investor asing masih menarik dana lantas dampk apa yang akan terjadi?

Menurut Analis Paramita Alfa Sekuritas William Siregar, keluarnya dana asing tidak lepas dari kenaikan suku bunga bank sentrak AS, The Fed yang sudah dilakukan 2 kali sejak awal tahun dan berencana untuk kembali dinaikan.

“Membuat dolar AS menjadi greenback atau adanya perputaran uang dolar untuk kembali masuk ke AS karena meningkatnya tingkat suku bunga,” terangnya kepada detikFinance, detikFinance, Minggu (5/8/2018).

Selain itu ada pula pengaruh dari meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan China. Ditambah lagi neraca dagang Indonesia masih yang berturut-turut defisit, meski data BPS terakhir menunjukan surplus.

Oleh karena itu, dampak dari keluarnya dana asing di pasar modal akan memberikan efek domino. Pertama nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus melemah.

Baca Juga:   Cerita Warga Perbatasan, Kini Tak Lagi Beli Gas dari Malaysia

Kemudian Bank Indonesia (BI) menaiikkan suku bunga acuan dan itu sudah dilakukan beberapa kali. Ketika suku bunga acuan naik maka konsumsi masyarakat akan tertahan, sebab perbankan akan menaikan bunga kredit dan pinjaman lainnya.

“Maka konsumsi masyarakat akan tertahan. Ketika konsumsi masyarakat tertahan, maka pertumbuhan ekonomi tidak dapat dikejar sesuai target. Jadi seperti efek domino,” terangnya.

Menurut William Siregar salah satu cara untuk mengantisipasi keluarnya dana asing dengan memperkuat basis investor domestik. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tentunya harus terus melakukan sosialisasi dan promosi tentang investasi di pasar modal.

“Yakinkan pelaku pasar untuk terus berinvetasi di pasar modal sejalan dengan masih positifnya outlook market ke depan,” tuturnya.

Seiring dengan itu, BEI juga harus memastikan kinerja-kinerja keuangan perusahaan tercatat di pasar dalam kondisi sehat. Tentu caranya dengan meningkatkan pengawasan.

“BEI harus memastikan bahwa emiten di bursa yang memiliki tingkat leverage tinggi masih tetap aman untuk menjadi sarana investasi masyarakat,” tambahnya.

BEI, kata William, harus menjaga kondisi pasar dengan melakukan evaluasi terhadap emiten yang memiliki rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) yang tinggi.

Terakhir BEI harus terus melakukan upaya peningkatan inklusi keuangan, tujuannya agar masyarakat mengetahui bahwa investasi di pasar modal memiliki imbal hasil yang tinggi.

 

 

 

( Sumber : detik.com )