Data Ekonomi Melempem, Bursa China Melonjak

REKANBOLA – Pasar saham China berhasil bangkit dari pelemahannya bahkan membukukan kenaikan tajam pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (15/5/2019), pascarilis sejumlah data ekonomi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks CSI 300 ditutup melonjak 2,3 persen. Meski demikian, volume dalam indeks itu mencapai sekitar 35 persen lebih rendah dari rata-rata pergerakan 30 hari.

Sementara itu, laporan mengenai produksi industri, penjualan ritel, dan investasi yang dirilis hari ini terlihat lebih buruk daripada perkiraan para ekonom.

Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis hari ini, pertumbuhan produksi industri melambat menjadi 5,4 persen pada April 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Padahal pada Maret, produksi industri mampu tumbuh 8,5 persen. Selain lebih rendah dari pencapaian pada bulan sebelumnya, pertumbuhan produksi industri pada April juga lebih kecil dari proyeksi para analis dalam survei Reutes yakni 6,5 persen.

Data NBS juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan penjualan ritel yakni 7,2 persen pada April, laju terlambannya sejak Mei 2003.

Raihan tersebut lebih rendah dari pertumbuhan penjualan ritel pada Maret sebesar 8,7 persen maupun proyeksi para analis untuk pertumbuhan sebesar 8,6 persen.

Sementara itu, pertumbuhan investasi aset tetap melambat menjadi 6,1 persen selama empat bulan pertama tahun ini. Raihan ini lebih kecil dari prediksi untuk kenaikan sebesar 6,4 persen maupun kenaikan sebesar 6,3 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.

Namun, alih-alih memperpanjang pelemahannya yang telah terbebani eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), bursa saham China mampu melonjak pada perdagangan hari ini.

Suramnya ketiga data tersebut justru mendorong spekulasi para pedagang bahwa pemerintah China akan mempertimbangkan lebih banyak stimulus untuk mendukung perekonomian.

Baca Juga:   Bankir Optimis Kredit Tahun Ini Tumbuh 11,5 Persen

Para analis sebelumnya telah mengurangi ekspektasi mereka untuk stimulus tambahan di China karena melihat kuatnya data ekonomi tersebut pada Maret berikut tanda-tanda progres dalam perundingan perdagangan.

Namun kini banyak yang memperkirakan Bank Sentral China akan mempertahankan bias pelonggarannya dan terus menjaga likuiditas yang cukup dalam sistem keuangan.

“Dengan data tersebut, selain karena kekhawatiran perdagangan, kita sekarang dapat lebih yakin akan ada dukungan kebijakan lebih lanjut,” ujar Wu Xianfeng, seorang fund manager di Shenzhen Longteng Asset Management Co.