Demi Jadi Pebulutangkis Dunia, Anak Ini Rela Latihan Sampai Berdarah-darah

Rekanbola – Tak mudah jalan yang harus dirintis para pebulutangkis cilik ini untuk mencapai level tertinggi. Sejak dini mereka harus berlatih keras dan sampai terluka.

Terpilih menjadi salah satu bibit atlet bulutangkis PB Djarum tidak membuat perjuangan anak-anak menjadi semakin mudah. Latihan berat ditambah rasa kangen rumah hampir selalu rasakan selama berada di pusat pelatihan bulutangkis di Kudus, Jawa Tengah.

Calvin Kennedy Chendrawinata (10) contohnya, penerima beasiswa PB Djarum asal Pekanbaru ini bahkan harus menahan sakit dan mengabaikan luka demi mengejar terjangan shuttlecock yang beterbangan selama latihan.

“Pernah latihan sampai berdarah karena jatuh. Kalau gitu terus aja main karena enggak terasa sakit,” kata Calvin yang sudah setahun di bawah PB Djarum kepada wartawan, Kamis (9/6/2018).

Menu latihan enam jam sehari pun harus dia lakoni hanya demi satu tujuan menjadi juara dunia sepeti atlet kebanggaanya Lee Chong Wei. 

“Aku suka Lee Chong Wei karena tekniknya bagus, kakinya cepat, mainnya bagus. Kalau ketemu aku mau foto dan latihan bareng,” sambung dia.

Mimpi yang hampir sama juga menjadi motivasi Devira Angelica Pascoal (11). Devira mengatakan pesan Liliyana Natsir kepadanya menjadi pelecut untuk tidak menyerah terhadap bulutangkis.

“Suka Liliyana Natsir pernah ketemu ngajak foto sama ngobrol. Dia bilang jadi pemain yang baik, dengerin pelatih, kalau disuruh lari larinya yang bener,” kata Devira menirukan pesan Liliana alias Butet tersebut.

Bahkan latihan tambahan sendiri kerap dilakukannya. Rasa kangen rumah di Manado pun dia pendam dalam-dalam.

“Pernah ngerasa capek tapi maksa aja dan enggak pengen pulang,” kata anak kelas empat SD yang sudah menjadi juara di berbagai kompetisi ini

Baca Juga:   Novak Djokovic Melaju Ke Final Keenam Di Cincinnati

Kerja keras yang sama juga dilakukan oleh Nazura Trisyah (12) yang tinggal jauh di Meulaboh, Aceh. Dia mengaku latihan yang dialaminya cukup berat namun karena kecintaannya terhadap bulutangkis semua terbayarkan.

“Berat tapi suka bulutangkis dari kelas 2 SD. Suka kangen rumah tapi biasanya video call,” sebut dia.

“Mungkin nanti bisa banggain orang tua. Juga bisa juara dunia bisa banggain Indonesia,” lanjutnya.

Manajer PB Djarum Fung Permadi mengatakan setahun pertama di PB Djarum merupakan masa evaluasi anak-anak.

“Yang jadi tolak ukur adalah bukan prestasi tapi kemajuan yang dicapai kemudian bagaimana mengikuti sistem pembinaan dari kita. Selain itu pembinaan kita, juga pembentukan karakter. Itu hal yang menjadi penilaian kita kalau ada yang berpretasi bisa jadi penilaian mereka,” jelas Fung.

Sebagai informasi, hari ini merupakan pertandingan akhir Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 di Kudus, Jateng. Dari audisi tersebut menghasilkan 38 pebulutangkis muda yang akan maju ke babak Final Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 pada 7-9 September 2018. Mereka berasal dari enam kategori yaitu U-11 Putra, U-11 Putri, U-13 Putra, U-13 Putri, U-15 Putra dan Putri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *