Dituduh Sana-sini, Miliuner Cantik Ini Jadi Bangkrut dan Miskin

EKONOMI

Please enter banners and links.

Rekanbola – Kisah sukses tidak hanya bisa didapat saat memasuki usia senja, tapi juga saat masih di usia muda. Contohnya seperti kesuksesan yang diraih oleh Elizabeth Holmes yang pernah dinobatkan menjadi miliarder wanita termuda.

Holmes merupakan seorang penemu dan wirausahawan Amerika. Namanya sempat ada di 100 orang paling berpengaruh TIME tahun 2015. Sayangnya, kesuksesan Elizabeth Holmes hilang karena berbagai tuduhan kepadanya belum lama ini.

Holmes sendiri juga sempat menjadi wanita termuda yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia. Saat berusia 31 tahun, dia menduduki posisi 360 orang terkaya dunia versi majalah Forbes.

Dilansir dari Forbes, Senin (30/7/2018), Holmes juga sempat di drop out (DO) saat menjadi mahasiswa tingkat dua di Stanford University. Dari situ, pada 2003, Holmes mendirikan perusahaan bernama Theranos, yang merupakan klinik cek darah yang berlokasi di California.

Usaha ini didirikan dengan modal uang kuliahnya. Dia merintis usahanya sendiri dari jerih payah sendiri.

Bisnisnya pun terus berkembang, hingga kemudian dia mendapatkan modal ventura senilai US$ 400 juta dan membuat nilai perusahaannya melonjak jadi US$ 9 miliar. Dari nilai itu, 50% saham Theranos dimiliki oleh Holmes, atau sekitar US$ 4,5 miliar.

Tapi dalam tiga tahun, ia kehilangan kontrol atas perusahaan yang didirikannya, Theranos. Aset kekayaannya longsor menjadi nol. Ada yang curiga terhadap perkembangan dari bisnis Theranos yang cukup pesat.

Dialah Bill Maris, yang mengelola Google Ventures (GV). Pada saat banyak pihak ingin berinvestasi dengan Theranos, Bill Maris justru mencurigai Theranos.

Bahkan Bill Maris mengungkapkan bila timnya sampai menjalankan pengecekan dengan melakukan tes darah di Theranos. Ternyata prosesnya tidak sesederhana publisitas yang diklaim oleh Theranos.

Kecurigaan lain datang dari seorang jurnalis Wall Street Journal bernama John Carreyrou. Sebagai pemenang Pulitzer Prize, John mencermati dan menyelidiki untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam Theranos.

Salah satu upaya yang dilakukan John di antaranya adalah mengulik informasi dari para karyawan Theranos. Ada yang mengatakan bahwa hasil tes yang dilakukan Theranos tidak akurat.

Beberapa pihak lain juga mengungkapkan bahwa sebagian besar tes sama sekali tidak dilakukan di laboratorium Theranos, namun menggunakan mesin konvensional yang dibeli dari sebuah pemasok.

Setelah laporan terkait perusahaan tersebut diterbitkan oleh Wall Street Journal pada Oktober 2015, pihak regulator keuangan AS, yakni Securities and Exchange Commission, membuka sebuah penyelidikan.

Pusat Layanan Medicare dan Medicaid, yang mengawasi laboratorium pengujian darah juga mencabut lisensi Theranos. Dalam setahun, perusahaan tersebut mulai menutup sejumlah labnya serta memberhentikan lebih dari 40% karyawannya.

Tak tanggung-tanggung, Forbes juga kemudian mengubah nilai aset kekayaan pendiri Theranos, Elizabeth Holmes, menjadi nol.

Perusahaan berupaya bertahan dan berhasil mendapatkan pembiayaan untuk membangun kembali. Namun akhirnya Elizabeth kehilangan kendali atas perusahaannya.

Ia diwajibkan melepaskan semua sahamnya dan dikenai denda US$ 500.000, belum lagi kemungkinan tuntutan pidana oleh jaksa federal atas dasar kecurangan.

Holmes pun setuju untuk membayar denda sebesar US$ 500.000, sekaligus melepaskan 19 juta saham Theranos. Ia juga tak diizinkan menjadi eksekutif atau direktur sebuah perusahaan publik selama 10 tahun.

 

( Sumber : detik.com )