Ekonomi Prediksi BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan

REKANBOLA – Bank Indonesia (BI) diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berakhir hari ini, Kamis (20/6). Ekonom menilai data makroekonomi menunjukkan ada ruang bagi bank sentral melakukan hal tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan suku bunga merupakan sasaran operasional untuk mengarahkan inflasi ke tingkatan tertentu (Inflation Targeting Framework/ITF). Sejauh ini, inflasi Mei 2019 yang sebesar 3,32 persen masih dianggap stabil.

Hanya saja, ekonom memperkirakan BI masih akan melakukan kebijakan stabilisasi demi mengantisipasi defisit transaksi berjalan pada kuartal II, dan mempertahankan aliran modal masuk demi mempertahankan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian sisi eksternal ini diperkirakan membuat BI enggan mengubah kebijakan suku bunga acuan.

“Jika tekanan ini diperkirakan masih akan berlanjut, maka saya masih meyakini BI akan mempertahankan suku bunga acuannya,” jelas Piter kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/6).

Saat ini, banyak sekali negara yang sudah melakukan pemangkasan suku bunga acuan. Sebut saja India, Malaysia, Filipina, hingga Australia sudah melakukannya. Namun, BI tak perlu latah mengikuti negara-negara tersebut mengingat kondisi Indonesia tentu berbeda dibanding negara-negara tersebut.

“Jika BI ingin membantu pertumbuhan ekonomi, tentu kebijakan seperti memperlancar likuiditas masih bisa dilakukan BI,” jelas dia.

Senada, Ekonom PT Bank Central Asia (Persero) Tbk David Sumual juga memprediksi bahwa BI masih akan menahan suku bunga acuannya. Kondisi eksternal, utamanya kelanjutan mengenai perang dagang, menjadi motivasi utama BI untuk menahan BI 7DRRR.

“BI tentu masih memikirkan defisit neraca perdagangan sehingga kemungkinan (suku bunga) masih ditahan,” jelas dia.

Baca Juga:   Tarif Jauh Dekat Sama Berlaku, Pintu Tol JORR Berkurang Jadi 2

Hanya saja, Kepala Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Febrio Kacaribu menilai bahwa BI perlu menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Menurut dia, inflasi masih cukup terkendali dalam jangka pendek dan menengah. Sebab, meski inflasi secara tahunan per Mei masih tercatat 3,32 persen, namun inflasi inti masih tercatat sebesar 3,05 persen.

Selain itu menurut dia, penurunan suku bunga acuan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik setelah kuartal I lalu mencatat 5,07 persen.

“Kami juga melihat defisit neraca berjalan di triwulan II masih terhindarkan mengingat pelemahan harga komoditas global. Namun tren kenaikan harga minyak akibat tensi politik di Timur Tengah memberatkan upaya menahan defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2019,” jelas dia.

Jika BI menurunkan suku bunga acuannya pada Juni ini, ia yakin masih banyak kesempatan bagi BI untuk menambah pemangkasan suku bunga acuan 25 basis poin lagi di semester II mendatang.

“Kami memprediksi pemotongan 25 basis poin suku bunga oleh The Fed dapat terjadi pada awal Juli. Hal ini akan membantu BI untuk terus melonggarkan kebijakan moneternya,” pungkas dia.