Evaluasi Angkutan Lebaran 2019: Mudik Lancar, Arus Balik Tersendat

REKANBOLA –  Setiap lebaran, pasti terjadi dinamika transportasi. Angkutan Lebaran tahun ini dapat dianggap kurang berhasil jika dibanding tahun lalu. Lebaran tahun ini, saat mudik arus lalu lintas relatif lancar, namun saat balik tersendat.

Rentang waktu antara mudik dan balik tidak seimbang. Mudik diselenggarakan 6 hari efektif, sedangkan balik hanya tiga hari. Volume kendaraan antara mudik dan balik relatif sama. Kapasitas prasarana tidak bertambah, sehingga wajar jika pada saat arus balik terjadi ketersendatan. Untuk membikin rencana operasi angkutan lebaran berikutnya, sebaiknya Kemen PAN diajak juga, karena kementerian ini yang merancang masa liburan ASN.

Tahun lalu, meski Tol Trans Jawa belum terhubung sempurna –masih ada yang fungsional, namun sudah bisa dilewati. Ditambah lagi harga tiket pesawat belum melonjak seperti tahun ini.

Tahun ini, euforia publik menggunakan tol cukup tinggi. Tiket pesawat meninggi. Terhubung Tol Trans Jawa dan sebagian Tol Trans Sumatera serta membaiknya layanan penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi pemicu beralihnya publik menggunakan moda darat, terutama kendaraan pribadi.

Bisnis sewa kendaraan di daerah cukup menurun tahun ini. Bisa jadi pemudik membawa kendaraan sendiri, sekalian untuk silaturahmi dan wisata.

Cara pandang pemerintah terhadap keberhasilan angkutan Lebaran melihat dari turunnya angka kecelakaan. Tahun lalu juga sudah turun dibanding tahun sebelumnya. Namun tahun ini, berdasar data terkini dari Korlantas Polri, ada penurunan 63% dibanding. Sementara dari kacamata pemudik, merasakan lamanya waktu perjalanan.

Kesadaran pemudik akan keselamatan juga meningkat. Walau masih ada juga pemudik yang masih belum paham memakai jalan tol. Saat beristirahat karena kelelahan tidak mendapatkan ruang di tempat istirahat dan pelayanan (TIP), memilih bahu jalan tol untuk beristirahat. Ini membahayakan mereka. Sebab ada kejadian kecelakaan saat mudik tahun ini ditabrak saat berganti pengemudi bahu jalan tol.

Baca Juga:   22,69 Kg Sabu dan 20.000 Pil Ekstasi Disita, Polisi Gulung 17 Pelaku

Bahu jalan tol untuk kondisi darurat, bukan buat istirahat. Edukasi dan sosialisasi tentang penggunaan tol ke publik masih harus digencarkan lagi.

Keterhubungan tol baik di Jawa dan sebagian Sumatera seolah memisahkan kendaraan roda dua dan roda empat ke atas. Jadi, logis sudah berkurang kecelakaan antara roda dua dan roda empat saat mudik dan balik. Kondisi jalan macet juga meminimkan kecelakaan.

Arus lalu lintas yang melewati jalan pantura antara Semarang-Cirebon, terjadi penurunan kisaran 10%-15%.

Ketersendatan di ruas tol diakibatkan masih beroperasinya gerbang tol (GT) di ruas dan TIP. Semestinya GT di ruas tol dihilangkan dan manajemen TIP dibenahi.

Pada saat ketersendatan di ruas tol lebih mudah dikendalikan ketimbang di jalan non-tol. Di ruas non-tol terjadi lalu lintas campuran (mix traffic) dan hambatan samping (side friction) yang cukup besar.

Kebijakan satu arah atau one way dan arus berlawanan atau contra flow juga ikut mendukung kelancaran. Tidak perlu diselenggarakan 24 jam, cukup situasional sesuai kebutuhan. Sebab ada kendaraan lain dari arah berlawanan juga memerlukan tepat waktu tiba di tujuan, seperti bus umum dan angkutan sembako.

Dampak naiknya tarif tiket pesawat udara juga berimbas ke angkutan laut. Ada peningkatan cukup berarti di angkutan laut. Para perantau di luar Jawa yang tidak mampu beli tiket pesawat, lebih memilih kapal laut untuk mudik ke kampung halamannya.

Transportasi penyeberangan sudah berbenah terutama di Merak-Bakauheni. Ada dermaga khusus sepeda motor, ada dermaga eksekutif seperti terminal di bandara. Kapasitas kapal juga sudah besar dan bersih. Semua ruang berpendingin. Untuk menyeberang 15 mil butuh satu jam. Sedangkan lewat dermaga non eksekutif butuh 2 jam.

Baca Juga:   Polisi tangkap 4 penyebar berita hoaks soal gempa di Indonesia

Ada jaminan keamanan dari Kapolda Lampung terhadap keamanan pemudik. Disiapkan beberapa penembak jitu atau snipper di beberapa titik jalan tol yang dianggap rawan. Keamanan di jalan tol Trans Sumatera terjamin.

Angkutan lanjutan di pelabuhan disediakan baik yang reguler maupun tidak, misalnya di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang ada bus Trans Semarang dan bus Damri kerja sama OT Pelindo dan Perum Damri ke beberapa kabupaten di Jawa Tengah.

Ke depan, mulai sekarang harus benar-benar disiapkan peningkatan kapasitas angkutan umum dan peningkatan layanannya. Layanan angkutan umum first mile hingga last mile. Pemerintah sudah mengamanatkan dalam RPJMN 2015-2019 untuk penyelenggaraan angkutan umum di daerah. Selanjutnya dituangkan lebih rinci dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perhubungan 2015-2019. Ada pengadaan 3.000 bus untuk dibagikan ke seluruh Nusantara.

Namun, ada pula penyelenggaraan transportasi umum untuk 33 kota selain Jakarta yang hingga kini belum dijalankan. Oleh sebab itu, penyelenggaraan transportasi umum untuk 33 kota tersebut harus dikebut. Setidaknya, setiap provinsi ada satu kota yang sudah memiliki layanan transportasi umum memadai.

Jika angkutan umum di daerah sudah memadai dan angkutan umum untuk mudik juga sudah bagus, pasti pemudik akan berkurang membawa kendaraan pribadi. Apalagi nanti ditambah kebijakan tarif tol dan harga BBM yang meningkat.

Layanan terminal penumpang masih harus ditingkatkan. Sistem mendapatkan tiket diperbaruhi, sehingga dapat meminimkan aktivitas calo tiket bus.

Kapal laut dan pelabuhan juga harus dibenahi lagi. Harus membikin suasana naik kapal 24 jam serasa 1 jam. Belajarlah dengan operator KA yang terus meningkatkan layanan kereta dan stasiun. Sekarang di beberapa stasiun, layanan antara stasiun untuk KA Ekonomi dan KA Eksekutif tidak jauh beda.

Baca Juga:   Produksi Gas Saka Energi di Amerika Meroket 566%

Di Jawa, mengaktifkan segera jaringan rel non aktif sudah mendesak dilakukan. Jaringan tol yang sudah terbangun tidak perlu ditambah lagi. Cukup ada akses jalan nasional ke setiap ibu kota kabupaten yang tidak terhubung langsung jalan tol. Pertimbangan lingkungan lebih diutamakan. Lahan produktif tidak boleh berkurang.

Penambahan kapasitas prasarana jalan tanpa disertai peningkatan layanan transportasi umum tidak akan memberi makna dalam waktu lama. Sekarang pun sudah dibuktikan, Tol Trans Jawa terhubung, macet tak terhindari.

Dan rencana pemindahan ibu kota pemerintahan harus segera terlaksana. Jika tidak, kapasitas transportasi untuk mudik dan balik seperti sekarang ini, dalam kurun lima tahun sudah tidak berarti.