Gagal Tembus Liga Champions, Arsenal Rugi Puluhan Juta Paun!

Rekanbola – Salah satu petinggi Arsenal, Vinai Venkatesham mengakui gagal bermain di Liga Champions musim ini telah membuat klubnya merugi secara finansial. Vinai berharap The Gunners bisa segera kembali ke Liga Champions, kompetisi penuh gengsi yang menghadirkan banyak sponsor.

Musim lalu, Arsenal berakhir di posisi ke-6 klasemen Premiere League dengan 63 poin, selisih 12 poin dari empat besar. Kondisi ini berakibat pada pemecatan Arsene Wenger dan datangnya Unai Emery sebagai pelatih baru yang dipercaya bisa mengembalikan kekuatan Arsenal

Kini, setelah 12 pertandingan, Arsenal berada di posisi kelima klasemen sementara dengan 24 poin. Emery punya tugas berat untuk menjaga performa apik Arsenal sampai akhir musim demi menembus empat besar klasemen akhir nanti dan kembali ke Liga Champions.

Kembali ke Liga Champions adalah target utama Arsenal musim ini. Baca ulasan selengkapnya di bawah ini:

 

Tergantung

Menurut Venkatesham, hanya bisa tampil di Liga Europa jelas berdampak buruk. Bukan berarti Liga Europa tak menguntungkan, hanya saja ada begitu banyak faktor yang berpengaruh pada kelas klub tersebut.

“Saya pikir itu [gagal ke Liga Champions] berpengaruh pada seluruh bagian klub – dampak material, dampak finansial karena hanya bisa berada di Liga Europa dan bukan di Liga Champions,” ungkap Venkatesham di tribalfootball.

“Sulit menentukan angkanya karena itu tergantung pada bagaimana baiknya laju anda di Liga Europa dan bagaimana anda saat bermain di Liga Champions dan itu tergantung pada berapa banyak klub Inggris di kedua liga tersebut.”

 

Puluhan Juta Paun

Meski tak bisa menyebutkan angka pastinya, Venkatesham meyakini Arsenal merugi puluhan juta paun. Lebih dari itu, Arsenal kehilangan prestise bermain di kasta tertinggi dan dianggap sebagai klub biasa saja.

Baca Juga:   Eks MU: Tendang Saja Pogba dan Mourinho Sekalian

“Namun jelas rugi puluhan juta paun, jadi ada dampak finansial yang terjadi. Namun, kami ingin bermain di pertandingan terbesar, bermain di Liga Champions lebih besar.”

“Semakin lama kami tersingkir dari Liga Champions, semakin besar tekanan pada bisnis kami. Tidak ada titik tertentu yang membuat hal ini jadi masalah parah, dan kami masih jauh dari titik tersebut,” tutupnya.