Geliat ekonomi mulai hidup di Palu, warga antre di warung-warung

Rekanbola – Sepuluh orang berdiri antre di sebuah warung klontong warna merah marun di Jalan Pattimura, Kota Palu. Mereka ingin membeli banyak keperluan.

Sambil berharap cemas, menunggu untuk dilayani. Takut banyak kebutuhan yang diincar kehabisan.

Pelayan warung tampak sibuk mengambil satu per satu pesanan pembeli. Antara penjual dan pembeli dibatasi etalase. Di belakang pelayan warung berjejer banyak keperluan diinginkan warga.

Menghitung dan bertransaksi jual beli. Harga tiap barang belanjaan masih mahal. Untuk air mineral botol saja, harga per kardusnya bisa mencapai Rp 75 ribu – Rp 85 ribu. Semua tergantung warung.

Untuk harga, sebagian pembeli menganggap wajar. Mereka sadar bahwa harga kebutuhan pasti melonjak setelah Palu terkena bencana gempa bumi dan tsunami. “Bisa dimaklumi,” kata Andi, seorang pembeli di warung itu, Rabu lalu.

Hari itu belanjaan Andi cukup banyak. Sampai beli dua kardus air mineral. Selain itu ada juga makanan ringan, utamanya biskuit. Lima bungkus rokok juga masuk dalam kantong kresek hitam. Total belanjaan dia mencapai Rp 150 ribuan.

Kurang dari tiga jam, jumlah barang dagangan di warung itu berkurang. Antrean terus bertambah. Membuat para pembeli kadang menyelinap ke depan, memastikan barang belanjaannya ada.

Di sepanjang jalan ini hanya dua warung buka. Sisanya masih menutup rapat. Tidak banyak bangunan hancur di sekitar sini. Paling parah hanya Hotel Roa Roa. Sisanya masih kokoh berdiri.

Banyak toko tutup ini karena satu alasan. Takut dijarah. Faktor keamanan ini menjadi sorotan penting. Setelah beberapa hari sebelumnya terjadi penjarahan di sekitar Palu karena banyak warga terkena dampak gempa sulit mendapatkan logistik.

Baca Juga:   Waskita Karya Incar Proyek Kereta di Filipina

Seperti di kawasan Pasar Manondam, sekitar 2 kilometer dari lokasi tadi. Di sana masih banyak jejeran toko tutup, tidak berani buka. Selain itu, banyak pula pemilik warung tengah mengungsi keluar dari Kota Palu.

Hanya beberapa penjual buah dan sayur sudah berani berdagang. Bahkan minimarket semua tutup. Banyak di antara toko itu dalam keadaan terbuka, namun hancur. Diduga bekas dijarah.

Berjalan lagi ke arah Pelabuhan Pantoloan. Sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Beberapa warung juga sudah buka sejak Kamis lalu. Mereka tidak takut bila sewaktu-waktu dijarah.

Seorang ibu pemilik warung merasa tak khawatir. Sekitar 15 orang pria antre belanja di warungnya membeli banyak kebutuhan. Ketika kami tiba, tidak ada kekhawatiran tampak di wajahnya.

Pemilik warung itu melayani seperti biasa. “Saya walau wanita tidak takut. Saya lawan kalau dijarah,” ujar dia saat kami tanya soal banyaknya penjarahan di Palu.

Di warung ini, harga bahan pokok tidak naik. Sang penjual masih memberi harga normal barang dagangannya. Sehingga tidak heran banyak orang antre. Meski banyak bungkus makanan berdebu terkena debu dari tembok akibat guncangan gempa, namun masih layak dikonsumsi.

Perekonomian di Palu sudah mulai bergeliat. Listrik juga sudah menyala khususnya di tengah kota. Meski banyak wilayah masih gelap gulita. Khususnya daerah paling parah terkena bencana.

Wujud perekonomian mulai bergeliat bisa dilihat banyak bank milik negara sudah mulai mengoperasikan mesin ATM mereka. Banyak warga antre demi bisa mendapatkan uang kas.

Untuk di tengah kota memang lebih mudah mendapatkan keperluan. Ditambah bantuan penjagaan dari personel TNI. Bahkan pasar swalayan besar direncanakan bakal buka Sabtu siang ini.

Kehidupan ekonomi di Kota Palu menjadi target pemerintah. Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan langsung. Meminta para tentara berjaga di depan toko. Memastikan dan meminta mereka kembali membuka toko.

Baca Juga:   DPD kirim bantuan kemanusiaan ke Palu dan Donggala

Sebagian sudah melakukan. Tapi banyal pula masih tutup. Belum diketahu alasannya. Meski begitu, perlahan geliat perekonomian di Palu sudah mulai berjalan.