Golkar Tolak Koalisi Alternatif, Ini Tanggapan Demokrat

Rekanbola – Ajakan Partai Demokrat (PD) untuk membentuk koalisi alternatif ditepis Partai Golkar. Menurut PD, bisa saja nanti Golkar yang berbalik mengajak berkoalisi lebih dulu.

“Kalau Golkar menolak, ya bisa saja sekarang menolak. Tapi kita tidak tahu nanti pas mau pendaftaran justru Golkarnya yang lebih dulu mengajak kita untuk koalisi,”

ujar Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean di kantor DPP Demokrat, Jl Proklamasi No 41, Jakarta Pusat, Selasa (26/6/2018).

Saat ini disebutnya partai yang merapat ke koalisi Joko Widodo (Jokowi), saling berebut kursi cawapres di ajang Pilpres 2019, termasuk Golkar. PD paham jika penolakan koalisi alternatif merupakan strategi Golkar yang memang tidak ingin dibuka.

Namun, Ferdinand optimis bisa saja Golkar bersikap tak terduga apabila Jokowi tidak memilih calon dari Golkar sebagai cawapres.

“Nah, itu yang akan kita tunggu. Jadi kita tunggu nanti ya. Kalau dibilang nunggu duren jatuh ya kira-kira begitu lah. Kita tunggu pohon duren jatuh ini di halaman kita, seperti itu kira-kira,” ucapnya.

Namun, perolehan pilkada serentak akan menjadi perhatian khusus bagi partai-partai lainnya. Hasil pilkada bisa digunakan untuk menakar kekuatan masing-masing di babak Pilpres 2019 berikutnya.

“Kita lihat peta politiknya pascapilkada ini, baik Golkar, semua PKB, PPP, PKS, saya yakin masih wait and see hasil pilkada ini karena akan sangat berpengaruh kepada kekuatan politik masing-masing partai 2019 nanti,” tutur Ferdinand.

PD juga akan berkaca dari hasil pilkada besok, khususnya untuk wilayah Jatim dan Jabar, di mana ada kadernya yang dicalonkan. Jika mereka menang, dalam Pilpres 2019 PD tentu akan maju kembali.

Baca Juga:   Pisces, horoskop bulanan Anda untuk agustus 2018

“Kalau tentu bisa memenangkan, contoh Jatim, Jabar ya Demokrat akan percaya diri sekali untuk maju.

Karena pemilihnya saja sudah lebih 50 persen pemilih nasional. Jadi itu akan mendongkrak percaya diri kita dan akan mengubah peta politik nasional pascapilkada ini,” pungkasnya.

 

 

(Sumber : detik.com)