Google Bangun Pusat Riset AI yang Pertama di Afrika

Rekanbola – Google mengumumkan akan membuka sebuah pusat riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Afrika. Pusat riset itu akan menjadi yang pertama di benua ini.

Raksasa Silicon Valley itu mengatakan pusat riset baru itu akan dibuka di Accra, Ghana tahun ini. Pengumuman itu disampaikan melalui sebuah postingan blog yang dipublikasikan hari Rabu (13/6/2018).

“Kami berkomitmen untuk bekerjasama dengan universitas dan pusat riset local, serta bekerjasama dengan pembuat kebijakan tentang potensi penggunaan AI di Afrika,” tulis Google dalam postingan blog, dilansir dari CNBC International.

Accra yang terletak di sebelah barat Afrika akan bergabung dengan kota-kota besar seperti Paris, New York dan Tokyo, serta markas besar Google di Mountain View yang menjadi tuan rumah pusat riset AI.

Sementara keputusan itu adalah yang pertama untuk Google di Afrika, perusahaan itu telah memiliki sejumlah kantor di benua itu selama satu dekade belakangan. Google mengoperasikan program pelatihan ketrampilan digital yang diyakini dapat memberi keuntungan bagi 10 juta warga negara Afrika.

Sebagai tambahan, Google juga menjalankan inisiatif terpisah bernama Launchpad Accelerator Africa yang disebut mendukung 100.000 pengembang dan lebih dari 60 perusahaan rintisan (startup) teknologi di Afrika.

Namun, Accra bukanlah satu-satunya kota di Afrika yang memposisikan diri sebagai pusat teknologi. Misalnya, bukota Ethiopia Addis Ababa dan Ibukota Rwanda Kigali sama-sama dikenal atas kredensialnya dalam pengembangan teknologi. Sementara itu, Kenya dikhususkan oleh pendiri Microsoft Bill Gates karena inovasi “pionir” dari platform pembayaran digital M-Pesa.

Ghana kemungkinan akan menarik perhatian Google juga karena kualitas sistem pendidikan dan institusi pengumpan lainnya, kata Lucy James selaku Associate Consultant di tim Afrika dari Control Risks kepada CNBC International hari Kamis (14/6/2018). Perusahaan pencarian itu fokus “menarik bakat lokal dan tidak ada kekurangan bakat di Ghana,” katanya.

Baca Juga:   Kominfo Ingin Startup Indonesia Bisa Mengalahkan Silicon Valley Milik AS

Ghana juga menikmati situasi politik yang relatif stabil, kata James. Sementara negara tetangganya Nigeria lebih rentan terhadap kerusuhan sipil meski memiliki perekonomian terbesar di benua dan mempromosikan pusat bisnis Lagos sebagai pusat teknologi yang berkembang.

Meskipun begitu, pilihan itu agak kurang biasa karena Ghana menduduki peringkat 12 di kawasan Afrika Sub-Sahara dalam indeks kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business/EoDB) Bank Dunia (World Bank). Sebagai perbandingan, Rwanda, Kenya dan Afrika Selatan yang juga merupakan perekonomian terbesar di benua menduduki posisi lima besar.

Namun, pemerintah pro-bisnis Ghana dan masyarakat kewirausahaan mungkin akan berkontribusi ke dalam pemilihannya. Masyarakat di Ghana sama-sama memiliki “pemikiran bahwa Anda bisa mengganggu sesuatu dan melakukan perubahan,” kata James.

 

 

(Sumber : cnbcindonesia.com)