Harga Minyak Dunia Tertekan Kenaikan Stok AS

Rekanbola – Harga minyak mentah pada perdagangan  waktu Amerika Serikat (AS), merosot sekitar US$2 per barel. Pelemahan terjadi setelah data stok minyak mentah AS pekan lalu menunjukkan peningkatan, menambah kekhawatiran yang disebabkan pelemahan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$2,22 menjadi US$64,82 per barel.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$1,96 per barel menjadi US$70,5 per barel pada pukul 11.07 EDT. Di awal sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh level US$70,4 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat, persediaan minyak mentah AS naik di luar perkiraan pada pekan lalu yaitu sebesar 6,8 juta barel. Kenaikan tersebut terjadi meski minyak mentah yang diproses kilang menanjak.

 

Baca Juga : Kantor Anggaran Kongres AS Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negeri Paman Sam

Kemudian, stok minyak mentah di hub pengiriman AS di Cushing, Oklahoma juga meningkat 1,6 juta barel.

Sebelumnya, para analis memperkirakan bakal terjadi penurunan mingguan pada persediaan minyak mentah AS.

Analis Komoditas Senior Commerzbank Carsten Fritsch menyatakan jumlah minyak mentah yang diproses di kilang melonjak tajam hingga mencapai hampir 18 juta barel per hari (bph) pekan lalu.

“Namun, (kenaikan jumlah minyak mentah yang diproses di kilang) itu tidak cukup untuk mencegah kenaikan persediaan. Atau bisa dianggap bahwa hal itu telah mencegah terjadinya lonjakan persediaan yang lebih besar,” ujar Fritsch.

Selain itu, lanjut Fritsch, hal yang menekan harga minyak mentah juga berasal dari memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China yang berpotensi menyeret permintaan minyak global.

Baca Juga:   Jurus Kemenhub Agar Pemotor Tak Lewat Trotoar

Para investor khawatir terhadap kondisi perekonomian global seiring eskalasi sengketa perdagangan antara AS dengan mitra dagang utamanya.

Berdasarkan indikator ekonomi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang mencakup perekonomian negara maju ditambah China, India, Rusia, Brazil, Indonesia, dan Afrika Selatan, tergelincir di bawah rata-rata pada Mei dan Juni.

Data Netherlands Bureau for Economic Policy Analysis menunjukkan pertumbuhan volume perdagangan dunia berada pada posisi puncaknya di Januari lalu dan sejak itu telah merosot kurang dari tiga persen pada Mei 2018.

AS dan China tengah berseteru dalam perang dagang pada beberapa bulan terakhir. Sengketa tersebut mengancam aktivitas ekonomi di kedua negara.

Saat ini, importir minyak mentah China terlihat menghindari pembelian minyak mentah dari AS. Pasalnya, mereka takut China akan memasukkan minyak mentah sebagai komoditas yang dikenakan tarif impor.

Berdasarkan data pelacak kapal Thomson Reuters Eikon, tidak ada satu pun minyak kapal tanker pengangkut minyak mentah AS yang merapat ke China sejak awal Agustus. Sebagai pembanding, pada Juni dan Juli, kapal tanker menuju China masih mengangkut sekitar 300 ribu bph minyak AS.

Sementara, investor terus memperhatikan imbas dari pengenaan sanksi AS terhadap Iran. Para analis menyatakan kebijakan tersebut dapat mengurangi pasokan minyak mentah Iran di pasar sekitar 1 juta bph untuk tahun depan.

BMI Reseach menyatakan bahwa pasar minyak bakal kesulitan untuk mencari arah seiring ketidakpastian yang disebabkan oleh dampak terhadap pasokan dari pengenaan sanksi AS kepada Iran dan memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China.

(Kredit: www.cnnindonesia.com)