Harimau Sumatera yang tewas terjerat di Riau ternyata sedang hamil 2 bayi

Rekanbola – Harimau Sumatera yang ditemukan tewas terjerat di Desa Muara Lembu, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau ternyata berjenis kelamin betina dan sedang mengandung sepasang ekor bayi harimau. Satwa langka yang dilindungi itu tewas dengan kondisi tragis, tubuhnya terlilit tali jeratan ditemukan di tepi jurang.

“Dari hasil pengecekan dokter hewan dan yayasan Asyari, kematian karena pecah pada organ ginjal akibat tali jerat yang tersangkut di pinggang harimau itu,” ujar Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Kamis (27/9).

Haryono mengatakan, setelah pihaknya melakukan pembedahan pada bangkai harimau tersebut, terlihat sedang mengandung anak jantan seberat 6,5 ons dan betina 6 ons. Hewan Panthera tigris sumatrae tersebut, diperkirakan berusia 3 hingga 4 tahun.

“Harimau ini berasal dari Rimbang Baling karena TKP masih merupakan wilayah jelajahnya. Dari usianya, berarti ia harimau dewasa yang siap untuk menghasilkan keturunan. Dia lagi hamil sepasang bayi harimau, jantan dan betina,” kata Suharyono.

Hewan bertaring dan berkuku tajam itu memiliki tinggi badan 76 centimeter dan berat badan sekitar 80 kilogram ini, diduga mati karena mengalami kerusakan organ dalam.

Usai dibedah, bangkai satwa dilindungi ini kemudian dikubur petugas di areal kantor BBKSDA Riau. Kemudian kuburannya itu ditutup dengan beton.

Satwa belang itu ditemukan tewas di tepi jurang perbatasan Desa Muara Lembu dan Pangkalan Indarung, Rabu (26/9) siang. Kondisinya saat itu dalam keadaan menggantung dengan tali jerat seling baja (sebelumnya benang nilon) di pinggangnya.

Awalnya harimau itu berhasil lepas dari lokasi jeratan milik masyarakat tersebut. Sambil membawa serta tali jerat di pinggangnya itu, harimau ini terus berlari hingga radius 150 meter dari lokasi awal. Setibanya di pinggir jurang, harimau ini dibuat tak berdaya ketika tali yang melilit pinggangnya harus tersangkut.

Baca Juga:   Kisah sukses miliuner muda dunia, usia 19 tahun punya harta Rp 15,6 T

“Seling baja itu melilit pinggangnya. Kemudian tersangkut pada batang belukar sehingga tidak mampu untuk melepaskan diri, dengan posisi menggantung di jurang dan tali jerat semakin melilit pinggangnya. Kemudian harimau itu mati,” kata Suharyono.

Di saat proses evakuasi dilakukan, petugas juga mengamankan seorang warga yang diduga memasang jeratan maut dan mengakibatkan harimau itu tewas. “Warga itu mengaku sebagai pemasang jerat. Awalnya bertujuan untuk jerat babi hutan,” katanya.

BBKSDA Riau berjanji dalam waktu dekat akan melakukan operasi jerat di beberapa daerah. Pasalnya, insiden terjeratnya satwa langka bukanlah sekali yang terjadi.

“Pada bulan Agustus, gajah terjerat dan kemarin sudah ada satu ekor terjerat. Kami merasa kecewa sekali sehingga kami mengharapkan dukungan dari seluruh aparat. Kami akan segera menurunkan tim operasi. Dan kami akan cari siapa para penjerat itu,” pungkasnya.