Hingga Agustus, Target Penyerapan Beras Bulog Banyumas Belum Capai 30%

Rekanbola – Penyerapan beras oleh Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, hingga saat ini baru mencapai 29.000 ton setara beras dari target sebesar 48.000 ton, kata Kepala Bulog Subdivre Banyumas Sony Supriyadi.

“Sementara untuk gabah, penyerapan yang kami lakukan baru mencapai 175 ton dari target sebesar 9.000 ton,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin.

Ia mengakui volume beras yang masuk ke gudang-gudang Bulog Banyumas dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan dari biasanya yang bisa mencapai kisaran 100-400 ton per hari.

Menurut dia, hal itu disebabkan saat sekarang sudah tidak ada petani yang panen seiring dengan masih berlangsungnya musim kemarau.

Kalaupun ada yang masuk ke gudang Bulog, kata dia, beras tersebut berasal dari gabah kering simpan yang dijual oleh petani.

“Tetap ada yang masuk meskipun tidak rutin dan volumenya berkurang dari biasanya. Kadang sebesar 61 ton, 35 ton, tetap ada yang masuk,” jelasnya.

Terkait dengan gabah kering simpan yang dijual petani, Sony mengatakan kualitasnya sering kali tidak sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Bulog.

Dalam hal ini, dia mencontohkan gabah kering simpan yang dijual petani di wilayah Patikraja, Kabupaten Banyumas, dan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, ternyata kadar hampanya sangat tinggi.

“Kemarin ada informasi jika di daerah Patikraja harga gabahnya Rp4.800 per kilogram kemudian kami datangi, namun ternyata hampanya lebih dari 4 persen sehingga tidak memenuhi ketentuan kami,” katanya.

Selain itu, kata dia, harga gabah di tingkat petani khususnya di Kedungreja saat sekarang juga tergolong tinggi karena mencapai Rp5.600 per kilogram.

Akan tetapi, lanjut dia, gabah tersebut bukan merupakan gabah kering giling melainkan gabah kering simpan, yakni gabah yang baru dijemur sebanyak satu hingga dua kali sebelum disimpan.

Baca Juga:   Kasus Montara, Pemerintah Ikuti Petani Gugat PTTEP

“Gabah tersebut belum memenuhi ketentuan Bulog khususnya yang berkaitan dengan kadar air sebesar 14 persen, tetapi dijual di pasaran dengan harga Rp5.500-Rp5.600 per kilogram. Padahal, kami membeli gabah kering giling dengan harga sebesar Rp5.115 per kilogram,” katanya.

Lebih lanjut, Sony mengatakan pihaknya beberapa waktu lalu mengalihkan sebagian stok beras yang tersimpan di beberapa gudang Bulog Cilacap ke Banyumas.

Menurut dia, hal itu dilakukan dengan tujuan agar gudang-gudang Bulog di Cilacap masih memiliki ruang untuk penyimpanan.

“Kami memang sedang menghadapi masalah ‘space’ (ruang, red.) gudang. Jadi, sebagian stok di Cilacap dialihkan untuk didistribusikan ke sini (Banyumas, red.),” katanya.

Kendati penyerapan atau pengadaan beras baru mencapai kisaran 29.000 ton setara beras, dia mengatakan jumlah tersebut masih bisa memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan.