Ini Bukan Batu Biasa, Banyak yang Tewas Saat Mengangkatnya

Rekanbola – Selain hikayat Hutan Roban atau alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ternyata juga menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah kuno yang legendaris di masanya. Salah satu situs tua itu di antaranya, Prasasti Sojomerto.

Nama prasasti ini di ambil dari nama tempat ditemukannya, yaitu di Desa Sojomerto, tepatnya di RT 03 RW 03, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Prasasti yang berangka tahun 602 Saka atau 680 Masehi ini, diyakini sebagai prasasti paling tua di Jawa Tengah. Bagi masyarakat setempat, prasasti ini dinilai memiliki kekuatan gaib yang dapat menyebabkan kematian.

Juru kunci sekaligus pemilik tanah lokasi Prasasti Sojomerto, Nariyah (53 tahun) menuturkan, prasasti itu ditemukan pertama kali oleh masyarakat setempat pada tahun 1940. Saat itu prasasti ditemukan di bawah pohon kopi lahan milik warga bernama almarhum Salman.

Saat ditemukan, prasasti ini dulunya sempat hendak dipindahkan ke Museum Ronggowarsito di Semarang. Tapi, rencana pemindahan tak bisa selalu gagal. Karena delapan warga yang berusaha mengangkat prasasti ini, mendadak sakit dan meninggal dunia. Padahal prasasti sudah sempat diangkat sampai ke kantor desa.

“Semuanya meninggal di hari yang sama. Kemudian kakek saya bilang untuk segera dikembalikan ke tempat asal. Alhamdulillah empat orang yang mengembalikan termasuk bapak saya waktu itu, tidak terjadi apa-apa,” kata Nariyah.

Nariyah mengatakan, sejak saat itu, tidak ada lagi orang yang berani memindahkan prasasti tersebut. Menurutnya, sebelum ada kejadian orang meninggal itu, banyak burung yang bahkan jatuh dan mati saat terbang di atas Prasasti Sojomerto.

“Pernah juga ada seseorang yang mengaku paranormal asal Kalimantan. Dia datang dan ingin bertemu dengan penunggu prasasti tersebut. Namun saat memasuki area, ia justru terpelanting dua meter dan mengalami patah tulang di bagian tangan, ” kata Nariyah.

Baca Juga:   Debora Novalia Purba Sudah 4 Hari Tak Pulang, Ini Kalimat Terakhirnya Sebelum Pergi

Semenjak saat itu, kakek dari Nariyah yang menjadi juru kunci pertama prasasti, selalu berpesan untuk merawat dan menjaga benda tua itu. Warga sekitar juga dipesankan agar tak memindahkan prasati ke tempat lain.

Pada sekitar tahun 1960-an, Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, pernah meneliti prasasti ini. Selain diteliti, kawasan sekitar prasasti juga dibangun pagar dan atap.

Rekanbola berkesempatan melihat lebih dekat Prasasti Sojometo. Dari dekat, prasasti ini merupakan batu andesit tunggal dengan pahatan tulisan pada satu muka. Panjangnya 43 sentimeter dengan tebal 7 sentimeter serta memiliki tinggi 78 sentimeter.

Terdapat 11 baris tulisan yang sebagian telah rusak dimakan usia. Di dalamnya tertulis menggunakan aksara jawa kuno (Kawi) dan dialek Melayu Kuno. Isi prasasti menyebutkan seorang Negarawan bernama Dapantu Selendra, memuja dewa siwa, memiliki seorang ayah bernama Santanu, seorang ibu bernama Bhadrawati, serta beristri bernama Sampalu. Juga sebagai persembahan kepada Dewa Siwa sebagai rasa syukur.

Salah satu peneliti senior  LIPI,  Buchori, yang menuliskan keterangan soal prasasti Sojomerto menjelaskan, Dapantu Selendra yang disebutkan di prasasti merupakan cikal bakal berdirinya Dinasti Syeilendra. Dapantu Salendra, disebut-sebut cikal bakal yang menurunkan raja-raja Mataram Hindu Kuno. Boleh dikatakan Prasasti Sojomerto adalah prasasti tertua di Jawa Tengah.

Prasasti Sojomerto berada di bawah pengawasan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Prasasti Sojomerto juga sudah dijadikan objek penelitian pakar arkeolog, baik dalam maupun luar negeri. Mulai dari arkeolog  Jepang, Inggris, Belanda hingga Jerman.

BACA JUGA :

Hasil gambar untuk MInion logo

 

Baca Juga:   Fahira Idris Minta Polisi Proporsional Usut Kasus Perempuan Bawa Anjing ke Masjid