Ini penjelasan Kalapas soal penangkapan napi kasus narkoba di rumah dinasnya

Rekanbola – Kalapas Kerobokan Tonny Nainggolan memberikan penjelasan terkait penangkapan tersangka narapidana kasus narkoba, Samsul Arifin di depan rumah dinasnya, Jalan Tangkuban Perahu, pada Jumat (14/9). Menurut Tonny, memang saat itu ada 6 orang narapidana yang melakukan kerja bakti di halaman rumah dinasnya.

Ke-enam napi itu diawasi oleh dua petugas. Namun asimilasi tersebut sesuai dengan SOP dan aturan di Lapas. Tonny mengaku sedang cuti saat Arifin ditangkap.

“Saat itu saya statusnya lagi cuti, saya pulang ke Medan ke kampung di Samosir. Pada saat kejadian saya sudah di Medan. Hari Minggu saya sudah sampai di Denpasar. Jadi rumah itu kosong,” kata Tonny saat konferensi pers di Kantor Kanwil Kemenkum HAM, Renon, Denpasar, Bali, Rabu (19/8).

“Saya sampaikan ini supaya jelas dan clear. Jangan sampai ada anggapan tersangka ini ditangkap di dalam kamar. Jadi saya cuti dan surat cutinya ada dan kuncinnya itu saya tinggal di mobil. Jadi tidak ada yang masuk kedalam rumah itu kecuali ada izin dari saya,” tambah Tonny.

Tonny juga meminta maaf adanya asimilasi salah satu bentuk pembinaan kepada warga binaan di Lapas Kerobokan. Selain itu, asimilasi ini juga sesuai dengan SOP dan melalui proses Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang boleh melakukan asimilasi adalah warga binaan yang sudah menjalain 2/3 masa pidananya.

“Itikad kami baik untuk melaksanakan pembinaan ke warga binaan, ini musibah. Prosesnya penilaian selama dia masuk, di dalam, sampai dia dapat asimilasi, dapat remisi pada Agustus (berkelakuan baik). Ini yang kemungkinan besar akan kami tinjau kembali dan kami cabut remisinya,” jelas Tonny.

Baca Juga:   Tabrak Kios Bensin di Bali, Pemotor Tewas dan Warung Terbakar

Terkait tersangka Samsul Arifin, Tonny juga akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk terus melakukan pengusutan kasus tersebut. Dengan adanya kasus tersebut, Tonny memastikan penjagaan petugas di Lapas sudah ketat.

Kemudian, barang yang dimiliki oleh tersangka Samsul Arifin masih menunggu penyelidikan dari pihak kepolisian.

“Di dalam lapas tidak mungkin, karena ada CCTV pada saat mereka keluar, Samsul ini tidak bawa apa-apa dari dalam. CCTV kami awasi dari pintu, pintu darurat sampai luar lapas. Kami menunggu pihak kepolisian apabila mengarah pada apa yang diduga, disangka, kami akan berkoordinasi dengan polisi,” tegasnya.

Sementara Maryoto Sumadi, Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Bali Maryoto menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait masalah ini.

“Saat ini yang bersangkutan sudah ditangani pihak Polda Bali. Kami mendukung penuh dan menyerahkan proses ini dan menunggu hasil pemeriksaan. Dengan kejadian ini, menjadi masukan bagi kami,” paparnya.

Maryoto juga menjelaskan bahwa faktor over kapasitas di Lapas Kerobokan dengan jumlah sipir memang menjadi kendala utama.

“Antara jumlah petugas dan jumlah isi Lapas tidak sebanding over kapasitasnya. Bahkan saya masih saja satu tahun lalu jabat sebagai Kakanwil, itu sudah luar biasa peningkatannya. Sementara tidak ada pembinaan, baik penjagaan dan pengamanan, tentunya pengawalan dua orang, pemeriksaan di pintu kalau orang-orangnya itu-itu aja manusia ada batasnya kemampuan,” tandasnya.