IU Ungkap Masa-Masa Sulit Yang Ia Alami Justru Saat Karirnya Sedang Sukses

Rekanbola – IU tampil sebagai bintang tamu di acara talk show “Art of Conversation” yang ditayangkan KBS 2TV Sabtu (27/10) lalu. Di sini, penyanyi kelahiran 1993 tersebut menengok kembali karirnya selama 10 tahun dari debut hingga sekarang.

IU berbicara tentang penampilannya yang meninggalkan kesan di hati banyak orang di acara “Yoo Hee Yeol’s Sketchbook ” di mana Yoo Hee Yeol menatap dan memujinya. Pemilik nama asli Lee Ji Eun itu berkomentar, “Namaku trending di daftar pencarian, itu adalah hal yang sangat berharga bagiku.”

Mengenang kembali masa-masa debutnya, IU berkata, “Untuk membuatnya lebih baik, aku bekerja dengan sangat keras dan semangat juangku hebat. Aku berpikir bahwa aku harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk bertahan hidup, jadi aku menerima (job) apa pun yang ditawarkan padaku. Aku bahkan mem-booking pekerjaanku sendiri. Dulu aku jadi VJ sebuah channel game untuk waktu yang lama dan tampil di 10 acara radio sebagai bintang tamu reguler.”

Karir IU kemudian melejit dengan cepat setelah keberhasilan lagu hitnya, “Good Day”. “Awalnya, aku pikir nada tinggi tiga tingkat itu tidak memungkinkan. Itu cukup tinggi dan nafasnya berlangsung sangat lama, jadi aku merasakan banyak tekanan. Hari-hari ini di konserku, aku menyanyikan lagu ini sebagai lagu terakhir karena ini lagu hit terbesarku. Aku merasa kalau konser tiga jam akan gagal kalau aku tidak berhasil melakukan pitch tiga tingkat.”

IU kemudian membicarakan masa-masa sulitnya. “Aku mengalami kemerosotan besar saat aku berumur 22 tahun. Di mata publik, ini adalah tahun di mana aku terlihat sangat sukses. Saat itulah aku merilis ‘A Flower Bookmark’ dan ketika aku mendapat hasil bagus menyusul kesuksesan ‘Good Day’. Tapi secara mental, itu adalah tahun terburuk,” ungkap IU.

Baca Juga:   Pengalaman Pogba Akan Membantu Mbappe di Piala Dunia 2018

“Aku masih tidak tahu alasan tepatnya,” sambung IU. “Aku tidak pernah gugup setelah debutku, tapi (saat itu) aku sangat takut akan panggung. Aku takut dengan acara TV dan kamera. Wajahku memerah dan aku mulai berkeringat setelah menerima perhatian, jadi aku tidak bisa bernyanyi. Bahkan sehari sebelumnya, aku tidak seperti itu, tetapi rasanya seperti pengalaman yang aku bangun hingga saat itu telah lenyap. Aku pikir, ‘Bisakah aku melakukan ini? Bagaimana aku melakukan ini sebelumnya?’ Aku sangat gugup sampai-sampai ada saat-saat di mana aku minum obat penstabil mood sebelum tampil.”