Jadi Guru Honorer Memang Berat, Modal Semangat Saja Tidak Cukup

REKANBOLA – Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

 

– Pak Mas’ud, Asesor Akreditasi

Saat kalimat itu dilontarkan oleh Pak Mas’ud, ada lelehan air mata yang terasa hangat di pipiku. Aku tak berani menegakkan kepala. Dadaku terguncang. Sekuat tenaga, kutahan agar mulutku tak mengeluarkan suara. Telingaku waspada mendengarkan asesor akreditasi sekolah yang memberikan refleksi atas penampilanku saat mengajar.

“Menjadi guru memang seperti itu. Harus bersemangat. Tidak hanya duduk-duduk saja. Bergerak, keliling kelas. Datangi anak-anak. Tanyakan, adakah kesulitan yang mereka alami? Betulkan jika mereka salah. Dijamin, energi semangat itu akan dirasakan oleh semua anak didik kita juga. Belajarlah dari guru kelas 1. Jangan gengsi meskipun beliau hanya guru honorer!”

Air mataku semakin tak bisa kubendung. Aku tak berharap disanjung-sanjung seperti itu. Kuyakin mata teman-teman sejawat mengarah kepadaku. Aku tak peduli. Saat itu yang terlintas dalam benakku hanya wajah ibu dan bapakku. Karena mereka, ya, aku seperti ini karena mereka.

“Hidup di desa mau jadi psikolog anak? Nggak ada gunanya. Kalau kamu jadi guru, setidaknya keluargamu akan dihormati oleh orang lain. Derajat keluarga kita akan naik,” nasihat bapak di suatu malam.

Hari ini, delapan tahun lamanya semenjak lulus SMA, impianku untuk menjadi seorang psikolog anak sudah kukubur dalam-dalam. Aku ikuti permintaan bapak dan ibu.

Baca Juga:   Prilly Latuconsina Gelar Konser untuk Teman-Teman Makhluk Gaib

Berat.

Rasanya berat sekali.

Dulu, semester pertama kuliah, aku seperti orang yang tak tahu arah. Kuliah ya kuliah saja. Hati, pikiran, dan tubuhku jelas tak singkron. Tapi, Allah seakan-akan ingin menunjukkan kepadaku kalau aku tak salah jurusan. Aku dipertemukan dengan dosen dan teman-teman yang luar biasa.

Ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan. Aku tak tahu malu, menangis di depan teman-temanku dan mengungkapkan bahwa aku merasa begitu lelah menjadi boneka kedua orangtuaku.

“Kamu nggak salah jurusan, Nak. Bertahanlah di sini untuk kedua orangtuamu,” ungkap dosen mata kuliah pendidikan anak itu sembari memelukku.

Tangisku pecah.

***

Berjuang di atas rida orangtua tidak selalu mulus. Bahkan, aku merasa kalau Allah sangat mengujiku. Apakah aku benar-benar tulus mengorbankan impianku menjadi seorang psikolog anak demi keinginan kedua orangtuaku?

Tahun kedua menjadi guru honorer, aku sempat berpikiran untuk resign dan memilih merawat bayiku di rumah. Sayang, suami dan kedua orangtua tidak mengizinkan. Oke, aku stay cool jadi guru honorer.

Muluskah jalanku selanjutnya?

Pulang sekolah, saat hendak masuk ke bank, tiba-tiba ada seorang perempuan yang memanggil namaku. Ternyata dia adalah teman OSIS sewaktu SMA. Kami bercengkrama sejenak, basa-basi menanyakan tempat kerja dan kabar.

Satu hal yang membekas dalam ingatanku, betapa aku dan dia begitu njomplang (tidak berimbang). Dia naik mobil sport, penampilan rapi, wangi, bersih, sedangkan aku? Lipstik saja sudah tak berbekas, naik motor butut, dan bau kecut karena lari kesana-sini melayani anak-anak.

Pantas juga sih ya, gaji guru honorer kan hanya Rp300 ribu per bulan, sedangkan temanku itu seorang dokter gigi?

Saat itu aku mengutuki diriku sendiri karena telah memilih menjadi guru. Padahal aku percaya diri bisa mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih dari itu. Jujur, pertemuan tak sengaja dengan teman SMA-ku itu membuatku bernyali ciut.

Baca Juga:   Yahoo Messenger tak bisa digunakan lagi

Ah, menjadi guru honorer itu memang berat. Modal semangat saja tidak akan cukup. Saat lelah mendera, kebutuhan ekonomi merajai, iming-iming gaji pekerjaan lain, kemungkinan besar semangat itu akan mudah terkikis.

Modal yang kupegang sampai sekarang aku masih jadi guru honorer hanya satu. Yaitu ayat Allah, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Ya.

Salah satu kemudahan yang kurasakan dalam waktu dekat ini adalah nasihat Pak Mas’ud. Saat semangatku mulai nglokro, Allah kirimkan beliau untuk menyemangatiku. Saat gajiku tak cukup untuk membantu keuangan keluarga, Allah kirimkan rezeki lewat hadiah lomba menulis.

Sungguh, kini, aku tak pernah menyesal menangis di depan teman kuliahku dan berjumpa dengan teman SMA-ku dengan mobil sport-nya. Karena mereka juga bagian dari kemudahan yang Allah kirimkan kepadaku untuk selalu bersyukur telah memilih mengorbankan impianku menjadi psikolog anak dan istiqomah sebagai guru honorer yang mengajar di kelas 1 SD.

Bismillah. Merayu Allah, entah sampai kapan.