Jenderal Gatot dan dendam kegagalan masuk Kopassus yang membuatnya tak menyerah

 

Rekanbola.com – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mendatangi Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur. Kedatangan Gatot untuk berpamitan dengan seluruh prajurit Kopassus karena dirinya sebentar lagi akan memasuki masa pensiun.

Kehadiran Gatot disambut penuh sorak oleh prajurit sambil menyanyikan yel-yel Kopassus. Hal itu terlihat sejak Gatot turun dari mobilnya hingga masuk ke Gedung Balai Komando.

Dalam pidatonya, Gatot sempat mengenang kehidupan masa kecilnya di desa. Menurutnya, sejak kecil sang ibu selalu mendoakan agar dirinya menjadi prajurit TNI untuk Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini menjadi Kopasus.

“Pesan ibu kandung saya, kamu boleh jadi Akabri, tapi harus jadi RPKAD,” katanya di lokasi dengan mata berkaca-kaca,

Gatot kecil semula tak percaya diri. Bagaimana tidak, tubuhnya kala itu begitu kurus. Tapi dia berusaha membentuk badan ideal sehingga bisa menjadi prajurit TNI.

“Namanya anak SMA suka begadang, badan saya kurus kering, sehingga pada saat masuk Akmil saya harus makan pisang, susu sebanyaknya. Setelah itu saya masuk, bisa dibilang paling terakhir orientasi di bidang fisik,” ungkapnya.

“Selama empat tahun saya berusaha bisa masuk 10 besar. Karena persyaratan masuk prajurit komando harus 10 besar. Pas tes katanya saya sudah lulus. Tapi tidak (lulus),” sambung Gatot dengan nada suara merendah seperti menahan sedih.

Namun kegagalan tersebut tak membuatnya pantang menyerah seperti pesan ibunda. Gatot tetap berusaha menjadi prajurit terbaik.

“Begitu saya tidak masuk, saya dendam dengan Kopasus. Saya bilang ke ibu, ‘Bu saya enggak diterima’. Saya pamit ke Timor-Timor. Ibu saya bilang, ‘Di sana kamu jangan kalah dengan RPKAD’,” kata Gatot menirukan pesan ibunya.

Tidak lama berselang dari ceritanya, suaranya terdengar berat. Dalam kalimatnya tersematkan kebanggaan atas Kopasus.

“Sebagai manusia biasa, saya mohon maaf kalau selama memimpin kalian ada salah dan khilaf. Yakinlah bahwa semua itu karena dan hanya karena rasa cinta dan kebanggaan saya kepada TNI dan kepada bangsa yang besar ini,” ujarnya.

“Risiko apapun harus saya tempuh sebagai prajurit komando. Sehingga sejak kelahirannya, prajurit komando ini telah bersama-bersama melewati bersama, melewati lautan, tebing, cuaca mencekam, berat, tugas operasi di pelosok, daerah terpencil daerah rawan. Bahkan ketika tantangan tugas antara menang atau pulang nyawa, di dataran di puncak gunung. Tidak ada tempat yang membuat kalian gentar dan tidak ada tempat bersembunyi bagi pasukan komando,” kata Gatot.

Usai melakukan pidato, Gatot pamit dengan seluruh anggota dengan menyalami satu per satu anggota. Tak lama berselang, Gatot dipanggul oleh prajurit Kopassus hingga menuju kendaraan dinasnya yang berjarak lebih kurang 200 meter.

Saat itulah terlihat mata sang jenderal mulai berkaca-kaca.

 

 

Recommended :

 

Facebook Comments