Kasih Sayang Nelayan di ‘Pulau Anjing’ Pakistan

Rekanbola – Belasan kaki kecil bercakar menyibak pinggir perairan saat sebuah perahu kayu mendekati bibir pantai.

Kawanan berbulu itu seakan tahu bahwa yang berada di dalam perahu adalah “juru selamat” mereka.

Salah satu dari penumpang perahu turun terlebih dahulu untuk menambatkan perahu ke tiang pancang.

Penumpang yang satu lagi turun ke dalam air yang setinggi paha orang dewasa sambil membawa barang-barang dari dalam perahu.

Saat tiba di daratan, mereka langsung disambut yang telah lama menunggunya, yakni kawanan anjing-anjing.

Ekor-ekor bergoyang, lidah-lidah terjulur, menyambut yang dirindukan. Suara gonggongan bersahut-sahutan tanda perasaan senang.

Sosok yang disambut ialah dua orang nelayan, Abdul Aziz dan Mohammad Dada, yang selalu bolak-balik untuk memberikan makanan kepada anjing-anjing di sebuah pulau kecil di Karachi, Pakistan.

Pulau yang dikenal bernama Dingy atau Buddo itu merupakan habitat anjing-anjing yang terlantar.

Kawanan binatang yang berperilaku patuh dan setia itu diperkirakan merupakan yang terbuang dari Karachi.

Di Karachi memang banyak anjing. Jumlahnya sekitar 35 ribu ekor. Tak banyak yang memelihara anjing, karena penduduk Pakistan mayoritas Muslim.

Sayangnya puluhan ribu yang berhabitat di sana tidak selalu di sayang oleh sebagian kecil penduduk, terutama yang menganggapnya hama lingkungan.

Di Karachi ada banyak kasus penyiksaan anjing, sehingga pemerintahnya kadang bingung harus menyelesaikannya dari mana.

Pulau Dingy bisa dibilang surga bagi para anjing di Pakistan. Walau cukup sulit mendapat air bersih, namun mereka bisa bebas menjadi anjing setiap harinya, tanpa takut dibinasakan.

Tapi belakangan ini kondisi mereka semakin memprihatinkan akibat sumber makanan yang semakin sulit didapat.

Kedatangan dua nelayan tentu saja membantu mereka memperpanjang umur.

Baca Juga:   Bonita Ternyata Sempat Berjalan 1 Kilometer Usai Ditembak Bius

“Tak pernah kami melihat mereka tidak menyambut kami. Jadi kami rasa mereka sangat butuh perhatian,” kata Abdul yang datang membawa kue dan air bersih untuk para anjing.

Kedua nelayan tidak tahu pasti sejak kapan Pulau Dingy menjadi pulau anjing. Mereka menduga ada banyak penduduk yang sengaja membawa mereka ke sana agar selamat dari pembantaian.

Para anjing terpaksa memakan ikan mati yang terhempas ke daratan. Jika sudah mentok, mereka bakal menghabisi sesamanya demi bertahan hidup.

Mohammad terlihat menyebarkan makanan untuk anjing yang berkerumun di sekitarnya. Tak lupa ia memberikan kepada kawanan yang masih kecil.

“Manusia bukanlah manusia jika tak memiliki rasa kasih sayang,” kata Abdul sambil tersenyum menatap kawanan anjing yang lahap makan dan minum.

“Manusia bisa lapar dan haus, begitu juga mereka,” pungkasnya.

 

(Sumber : cnnindonesia.com)