Kecanduan Game, Mahasiswa Bawa Pispot ke Kamar Tidur hingga Terancam DO

REKANBOLA – Di Indonesia, kecanduan game online menjadi fenomena yang baru, setelah masifnya game-game online. Meskipun demikian, jumlahnya kini semakin meningkat dan berdampak pada kondisi fisik dan psikologis.

“Misalnya ada salah satu orang tua yang datang kemari karena anaknya sudah mau di-DO (Drop Out) dari universitasnya di Purwokerto. Anak kecanduan game online, jam 1, 2 pagi masih online. Gak mau mandi, sampai pispot dibawa masuk ke kamar karena gak mau ke kamar mandi, dia gak mau meninggalkan gamenya, jadi dibawa kemari,” kata Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Kristiana Siste Kurniasanti di Jakarta, seperti dilansir dari laman ABC Indonesia, Minggu (16/6/2019).

Siste juga mengatakan bahwa pemerintah Indonesia perlu memiliki kebijakan nasional untuk mengantisipasi dampak adiksi game online demi melindungi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Prevalensi kecanduan game online di tanah air diduga lebih tinggi dari sejumlah negara maju di Asia.bRSCM sejak tahun 2018 telah membuka klinik khusus adiksi perilaku, dan sampai sekarang sudah merawat puluhan pasien anak, remaja, dan dewasa dari berbagai daerah.

Para pasien itu umumnya mengalami hendaya atau disfungsi serius akibat kecanduannya bermain game online. Selain menangani para pasien tersebut, dr Siste juga mengkhawatirkan bahwa sejauh ini kesadaran masyarakat terhadap dampak adiksi online juga masih sangat rendah.

“Berbeda dengan kecanduan narkoba yang dekat dengan kriminalitas, orang tua banyak yang khawatir. Tapi kalau pada kecanduan game online, sikap orang tua kebanyakan lebih permisif. Mereka merasa lebih nyaman anaknya bermain game di rumah ketimbang bermain di luar rumah. ‘Gak apa-apalah dok, bukan narkoba ini, kalimat itu sering sekali saya dengar.” katanya.

Baca Juga:   Pengapalan Lesu, Samsung Masih Jadi Raja Smartphone

Selain kasus seperti yang terjadi pada mahasiswa yang hampir diberhentikan dari universitasnya, Siste mengatakan pasiennya juga ada yang sudah mendapat teguran dari kantornya karena pekerjaannya terbengkalai dan ada juga yang sampai terjerat utang ratusan juta rupiah gara-gara kecanduan ikut judi bermain game bola online.

Kondisi ini terjadi karena pada bagian otak pecandu game terjadi kerusakan khususnya pada area yang berfungsi untuk mengendalikan diri dan perilakunya.

“Pada kasus adiksi ada bagian dari otak pecandu yang rusak, yakni area yang namanya pre-frontal cortex, dimana ketika dilakukan pencitraan otak, di daerah itu didapati rusak, ketimbang mereka yang tidak kecanduan.” kata Siste.

“Area ini bertanggung jawab untuk mengendalikan diri, perilaku dan juga impuls yakni hal-hal yang dilakukan tanpa berpikir lagi. Jadi kalau bagian ini rusak dia gak bisa lagi berpikir, jadi langsung melakukan sesuatu dan perilakunya itu menimbulkan apa yang disebut neurotransmitter dopamine yang membuat dia merasa bahagia.”

Menurut Siste dalam jangka panjang kecanduan game online juga dapat memicu gangguan fungsi eksekutif untuk membuat perencanaan.

“Bisa dibayangkan seperti apa kualitas sumber daya manusia Indonesia nantinya. Kalau generasi muda kita banyak yang tidak bisa mengeksekusi pekerjaan karena mereka tidak tahu urutan melakukan sesuatu [membuat perencanaan] akibat kerusakan pada otaknya tersebut.” ungkapnya.