Kemendag: RI Mau Beli Sukhoi, Tak Ada Tekanan dari AS

Rekanbola-  Pemerintah berencana membeli 11 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Mekanisme transaksi ini dengan imbal beli, yaitu Indonesia membeli pesawat tempur, dan Rusia akan membeli komoditas Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, meskipun Amerika Serikat (AS) menggugat Indonesia di WTO soal kebijakan impor hortikultura dan mengevaluasi insentif bea masuk produk Indonesia, namun tak ada sedikit pun mengganggu rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi.

Transaksi pembelian Sukhoi masih berjalan seperti biasa. Mekanismenya imbal beli. Artinya kita membeli pesawat Sukhoi dan pihak Rusia membeli komoditas kita sekitar US$ 570 juta. Mekanismenya diserahkan ke Kemendag,” kata dia di Kementerian Perdagangan, Senin (12/8/2018).

“Jadi tidak ada kaitannya dengan upaya misi dagang Pak Menteri ke Washington beberapa waktu lalu. Tidak ada tekanan dari AS terkait hal ini. Kalau soal komoditas ada yang berbeda mungkin kita tawarkan 20 komoditas ke Rusia tapi hanya 10 komoditas mungkin yang dikaji,” lanjut Oke.

Oke menjelaskan transaksi pembelian 11 jet tempur Sukhoi masih berjalan lancar, saat ini kedua belah pihak sedang siapkan pembahasan melalui kelompok kerja yang membahas soal komoditas apa yang akan dibeli Rusia dari RI sebagai imbal balik.

Rincinya adalah dengan RI beli pesawat senilai US$ 1,14 miliar sebagai imbalannya Rusia harus membeli komoditas Indonesia senilai US$ 570 juta atau sekitar 50% dari total transaksi.

Saat ini pihaknya tengah menyusun komoditas yang ditawarkan dan pihak Rusia dan sedang menyusun komoditas yang diperlukan. Pihak Rusia sudah menyampaikan draft-nya, dan kini sedang mempelajari counter-draft dari RI.

Oke menjelaskan dari berbagai komoditas yang beragam, ada komoditas karet sampai textile di dalam list penawaran.

Baca Juga:   Bikin Produk Buat 'Ant-Man', Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta

“Ini mungkin mereka akan tertarik yaitu karet, dan yang kita tawarkan komoditas bernilai tambah misalkan tekstil, salah satu contohnya. Minyak sawit dan produk turunannya juga. Mekanismenya harus diatur karena berbeda dengan perdagangan biasa. Itu akan diatur dalam working grup,” jelas dia.

 

( Sumber : detik.com )