Kenapa sih Harus Rebutan Cowok?

REKANBOLA – Sebelumnya kalau ada lelaki yang memuji bahwa saya tidak seperti perempuan lainnya, saya merasa senang, namun ternyata itu bukan semata pujian. Itu hanyalah cara untuk membenturkan perempuan dengan perempuan lain. Akibatnya, sesama perempuan menjadi saling berkompetisi.

Di dunia patriarkal ini, sudah lama perempuan dibikin begitu. Misalnya, dalam urusan asmara. Banyak perempuan yang melulu menyalahkan perempuan lain karena si laki-laki berpaling darinya. Padahal, laki-lakinya yang brengsek.

Parahnya, tayangan-tayangan di televisi baik sinetron maupun iklan ikut membentur-benturkan satu perempuan dengan perempuan yang lain. Sebagai contoh, konten soal kulit. Perempuan yang kulitnya lebih putih dianggap lebih layak mendapat perhatian lelaki.

Alhasil, perempuan sering kali saling merisak, bahkan menyakiti hanya untuk mendapatkan perhatian lelaki. Mirisnya, itu pernah terjadi pada siswi-siswi di SMP dan SMA. Mereka berani bertindak jahat demi rebutan seorang cowok.

Saya tidak ingin masyarakat makin membenci perempuan. Tapi, menyakiti perempuan untuk mendapatkan perhatian lelaki adalah perbuatan yang salah, apalagi sekaligus untuk balas dendam. Karena itu, kita harus berani introspeksi juga, mengapa bisa tercipta lingkungan yang seperti itu?

Dalam pidato Michelle Obama di sebuah sekolah menengah, ia memberi saran, “Tidak ada lelaki di usia kamu yang cukup menarik untuk membuatmu berhenti menempuh pendidikan.” Walaupun saran Michelle untuk menyemangati perempuan, tetapi kita bisa memaknai agar perempuan lebih fokus pada pendidikan, bukan mikirin cowok melulu.

Kita juga harus berani mengoreksi sistem pendidikan yang gagal memberikan pedoman hidup untuk anak perempuan agar fokus pada pendidikan, bukan kepada cowoknya.

Yah, saya sih paham apa yang namanya ‘cinta monyet’ di sekolah. Banyak dari kita pernah melaluinya. Namun, yang disesalkan adanya anggapan bahwa orang yang tidak pernah pacaran di sekolah adalah orang-orang yang kuper. Ini kan nggak bener. Prestasi itu ditentukan kisi-kisi, bukan lelaki. Eh, gimana gimana?

Baca Juga:   Perawan Tidaknya Perempuan Bisa Dilihat dari Cara Jalan?

Lagipula, cinta yang fana di dunia patriarkis ini akhirnya hanya melihat perempuan sebagai objek layaknya trofi yang patut dikoleksi. Setelah meraih satu trofi, maka akan memburu trofi lain.

Sayangnya, selain cenderung menyalahkan perempuan lainnya, ada pula yang menyalahkan dirinya sendiri mengapa diputusin atau ditinggalkan. Sebetulnya yang terjadi adalah, kita terlalu banyak memberi sehingga merasa heran ketika dia tidak tertarik lagi dengan kita. Kita pun dibilang pengemis cinta atau bahkan bucin alias budak cinta.

Kita gagal melihat bahwa mungkin saja orang yang kita sayangi memang tidak pantas mendapatkan kasih sayang. Kita jarang berpikir bahwa jika mereka memang pantas mendapatkan kasih sayang, mereka tidak akan melepaskan kita dan mencari orang lain sebagai pengganti.

Hmmm… Simpel kan?

Jadi, janganlah perempuan saling menyakiti hanya gara-gara rebutan cowok. Bagaimana sekarang kita saling menyemangati dan mengangkat sesama perempuan agar tidak melakukan hal demikian.

Saya sendiri masih gagal merangkul perempuan lainnya untuk bersama melawan patriarki. Tentu, menjangkau adik-adik perempuan di seluruh Indonesia itu sulit, apalagi dengan maraknya budaya populer berupa tayangan yang mendorong-dorong sesama perempuan untuk saling bersaing mendapatkan perhatian lelaki.

Asal tahu nih, masyarakat kita memang menempatkan lelaki sebagai sentral dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat tata surya, semua yang ada harus mengitarinya, termasuk perempuan. Lha?

Padahal ya, secara resmi telah dinyatakan bahwa perempuan lebih kuat daripada laki-laki. Para peneliti dari Universitas Southern Denmark mendapati bahwa perempuan hidup lebih lama dibanding laki-laki di mana saja, kapan saja, dan kondisi apa saja. Lelaki juga lebih rapuh atau more fragile. Iya sih, rapuh kalau lihat rok mini, lemah kalau lihat baju berbelahan dada rendah.

Baca Juga:   Mayoritas Tiket Tayang Perdana 'Dilan 1991' di Bandung Ludes

Oh ya, satu lagi. Selain benturan antar peradabanperempuan, belakangan juga sering terjadi bullyingsecara masif di dunia maya terhadap perempuan yang tidak memiliki payudara, vagina, rahim, atau bahkan kromosom X. Ya, kita pun dibenturkan dengan transpuan. Atau, transpuan dengan transpuan lainnya.

Bahkan, masyarakat pun masih mengira alasan seorang transpuan melakukan transisi adalah untuk mendapatkan perhatian lelaki. Padahal, perempuan adalah sebuah konstruksi sosial.

Hari-hari ini, sangat penting untuk membongkar pengetahuan kita mengenai keperempuanan. Sebab, persaudarian ini penting di tengah masyarakat kita. Sejak lama perempuan ditindas, lantas mengapa kita tidak membela perempuan? Mengapa kita justru berpihak pada sistem yang menjatuhkan dan memiskinkan perempuan?

Kita butuh persaudarian yang solid. Kita butuh sisterhood, bukan cisterhood.