Ketika Bahasa Indonesia Tak Lagi Jadi Raja di Rumah Sendiri

Rekanbola 28 Oktober selalu menjadi hari yang diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda di Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda sangat monumental pada masa kolonial dulu karena berhasil menumbukan keindonesiaan dalam para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama dan daerah pada 1928 silam.

Salah satu isi sumpah tersebut adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, menggantikan bahasa Belanda ataupun bahasa yang lain.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, banyak pemuda dan pemudi yang cenderung lebih doyan menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa ibunya sendiri.

Bahasa Indonesia pun mulai luntur dengan berbagai dalih. Hal ini tentu sangat ironis dan menjadi paradoks.

“Penggunaan bahasa tidak mewakili ideologi, saat ini penggunaan bahasa asing dinilai baik, karena membuktikan kemampuan pemuda dalam menguasai bahasa asing, untuk menunjukkan anak bangsa memiliki kapasitas,” ujar Mahasiwa Universitas Bengkulu, Emir Miftah sebagaimana dilansir Antara, Kamis (25/10).

Seolah lupa sejarah, Emir menekankan jika penggunaan bahasa asing memang wajar untuk saat ini. Ia berdalih jika hal ini harus dilakukan akibat arus globalisasi.

Sementara akademisi Universitas Tirtayasa (Untirta) Serang, Banten, Tomi Faisal menganggap penggunaan bahasa asing atau kata serapan bukanlah sebuah masalah sepanjang digunakan sesuai dengan konteks yang benar.

Ia berpendapat, pemuda Indonesia harus fasih berbahasa asing guna membangun diplomasi dalam dunia internasional, khususnya jika digunakan untuk mempublikasikan kekayaan budaya di tanah air.

Dalam isi Sumpah Pemuda 1928 disebutkan bahwa para pemuda dan pemudi bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai persatuan.

“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikian bunyi poin tersebut.

Baca Juga:   Malaysia Turunkan Batas Umur Pemilih Jadi 18 Tahun

Dalam era kekinian, tampaknya para pemuda dan masyarakat semakin kompromis dengan penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari. Hal ini tercermin dalam frase “zaman now”.

Penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pun sudah dinilai sebagai hal yang tak wajar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa dari Untirta, Nabilla Salwa.

Nabilla menghimbau agar masyarakat tidak lagi menggunakan bahasa asing ataupun kata serapan.

“Karena jika terus berlanjut maka bahasa asli Indonesia akan terkikis dan itu akan menghilangkan nilai perjuangan para pahlawan yang dari dulu memperjuangkan supaya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Indonesia bukan bahasa asing maupun serapan,” jelas Nabilla, Senin (22/10).

Nabilla juga mengatakan memang bagus untuk mengetahui dan mempelajari bahasa karena bahasa adalah alat mempersatu, tapi sebaiknya sebagai pemuda dan rakyat pada umumnya menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bentuk pelestarian bahasa.

Sumpah Pemuda Meskipun Sumpah Pemuda telah lama dideklarasikan, ternyata harapan yang ditanamkan pada Sumpah Pemuda tersebut tidak pernah lekang, untuk mempersatukan pemuda Indonesia demi kemajuan dan kesatuan bangsa.

“Secara umum, pemuda saat ini memperingati Sumpah Pemuda setiap tahun, walaupun masih cenderung hanya sebatas peringatan 28 Oktober dan belum begitu memaknai bahwa hari lahirnya Sumpah Pemuda adalah hari lahirnya pemuda Indonesia,” ujar seorang akademisi Universitas Tirtayasa (Untirta) Tomi Firdaus, kepada Antara Rabu.

Tomi juga menambahkan pemuda saat ini sudah menjadi salah satu agen dari pemersatu bangsa. Mereka mulai peduli satu sama lain, seperti saat ada bencana alam mereka dengan sigap mulai mencari bantuan sebagai bukti kepedulian mereka.

Presiden mahasiswa Untirta, Muhamad Fadli mengatakan hari Sumpah Pemuda selalu dirayakan setiap tahunnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga:   Jokowi Ramal Pertumbuhan 2018 Capai 5,17 Persen

“Perayaaan Sumpah Pemuda ini selalu dilaksanakan setiap tahunnya baik dengan demo maupun dengan melakukan upacara. Di sisi lain makna dari Sumpah Pemuda telah direfleksikan untuk menjaga kesatuan semangat pemuda seperti diadakannya kongres- kongres pemuda dari berbagai pihak dan golongan supaya semangat pemuda terus berkobar juga menjaga keyakinan mereka dengan asas persatuannya,” ujar Fadli.

Presiden pertama Indonesia, dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan, “janganlah mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda”.

Bung Karno menaruh harapan besar terhadap pemuda Indonesia untuk selalu mempersatukan dan membangun bangsa. Beberapa kali ia menyebutkan pemuda sebagai orang yang mempu mengubah Indonesia seperti “Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” dan “Seribu orangtua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia”.

Tidak hanya Bung Karno, adanya Undang-Undang yang mengatur mengenai pemuda karena negara pun mengetahui bahwa pemuda memiliki peran yang strategis dalam pembangunan, kemajuan dan persatuan Negara Indonesia yang diatur dalam Undang- Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2009 tentang kepemudaan.

Menghadapi Pilpres Tidak terasa beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan merayakan 90 tahun Sumpah Pemuda, sumpah yang dijadikan sebagai dasar bagi pemuda untuk selalu tetap bersatu akan diuji apakah setiap tahunnya pemuda saat ini bisa terus bersatu dalam satu kesatuan atau malah terpecah hanya karena perbedaan dua kubu yang akan dipertemukan nanti pada pilihan presiden mendatang?