Ketika Khalifah Abu Bakar Minta Dikafani Kain Usang

RekanBola.com – Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Muhammad SAW pernah berkhutbah menyinggung tentang seseorang. Begini sabda Rasulullah.

Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.

Mendengar khutbah Rasulullah tersebut, Abu Bakar As Shiddiq menangis hingga para sahabat lain heran. Ternyata, yang dimaksud Rasulullah dalam khutbah tersebut adalah Abu Bakar.

Ya, di kalangan para sahabat Rasulullah, Abu Bakar terkenal karena keutamaannya begitu luar biasa. Abu Bakar yang juga mertua Rasulullah tidak mau mengikatkan diri sama sekali dengan kepentingan dunia.

Semasa hidup, Abu Bakar sangat loyal terhadap Islam. Dia tak ragu menyerahkan seluruh hartanya demi menyokong perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan Islam.

Tak hanya itu, Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang penuh kezuhudan dan kesederhanaan. Bahkan menjelang meninggal, Abu Bakar berwasiat agar jenazahnya tidak dimakamkan dengan kain kafan berupa pakaian yang selalu dikenakan saat bermakmum pada Rasulullah.

Kisah ini tertulis dalam Anisul Mu’minin. Suatu hari, Aisyah yang merupakan putri Abu Bakar sekaligus istri Rasulullah mengunjungi ayahnya yang tengah sakit. Aisyah menawarkan untuk memanggilkan dokter.

” Wahai Ayah, bagaimana jika aku panggilkan dokter?” ucap Aisyah.

” Aku sudah ditangani dokter,” kata Abu Bakar.

” Lalu apa kata dokter?” tanya Aisyah.

” Aku boleh melakukan apa yang aku inginkan.” Ucapan Abu Bakar menirukan perkataan dokter menandakan penyakit khalifar pertama ini sangat parah, bahkan mendekati kematian.

” Dengan kain mana aku nanti mengafani Ayah?” tanya Aisyah.

” Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum sholat bersama Rasulullah,” kata Abu Bakar.

” Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?” kata Aisyah.

Baca Juga:   Percakapan antara penumpang dengan driver ojek online 

” Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati,” jawab Abu Bakar.

Dialog ‘Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.
Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.
Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran ‘Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu a’lam.