Kinerja Industri Sawit Diramal Kinclong Berkat B20 2019 Nanti

REKANBOLA — Prospek industri kelapa sawit diperkirakan lebih cerah pada tahun depan. Kinerja akan ditopang oleh pelaksanaan mandatori kebijakan biodiesel 20 persen (B20).

Sekretaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang memperkirakan harga sawit akan membaik di tahun depan dari kisaran US$540-550 per metrik ton menjadi US$600-650 per metrik ton. Kenaikan harga akan didorong oleh meningkatnya permintaan seiring turunnya stok meski produksi diramal meningkat.

“Implementasi B20 akan menjadi pendorong utama minyak sawit tahun depan,” ujar Togar dalam Konferensi Sawit Internasional (IPOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (2/11).

Togar memperkirakan produksi minyak sawit mentah dan minyak inti sawit (CPO dan PKO) pada tahun depan mencapai 51,59 juta metrik ton. Produksi ini meningkat sekitar 11 persen dibandingkan proyeksi tahun lalu yang mencapai 46,86 juta metrik ton.

Kenaikan produksi ini antara lain akan diserap oleh kenaikan kebutuhan biodiesel domestik dari 3,73 juta metrik ton tahun ini menjadi sekitar 5,5 juta metrik ton. Volume ekspor CPO dan PKO juga diperkirakan akan naik dari 31,65 juta metrik ton menjadi 34,43 juta metrik ton.

Ekspor oleochemical naik dari 1,1 juta metrik ton menjadi 1,2 juta metrik ton. Konsumsi domestik diperkirakan meningkat dari 9,5 juta metrik ton menjadi 9,97 juta metrik ton, ekspor biodiesel. Sementara ekspor biodiesel diperkirakan turun dari 1,72 juta metrik ton menjadi 1 juta metrik ton dan stok akhir turun dari 3,35 juta metrik ton menjadi 2,84 juta metrik ton.

“Penurunan stok ini akan mendorong kenaikan harga,” terang dia.

Togar bahkan optimis kebutuhan konsumsi biodiesel bisa lebih tinggi dari proyeksi 5,5 juta metrik ton, seiring implementasi B20 yang sudah dapat berlaku penuh sepanjang tahun.

Baca Juga:   Bulog Gelontorkan 400 Ribu Ton Beras Impor dan Lokal ke Pasar

Chairman dari LMC International James Fry juga memperkirakan permintaan CPO akan meningkat seiring dengan kenaikan permintaan biodiesel yang diperkirakan meningkat signifikan pada tahun depan.

“Saya perkirakan permintaan akan naik didorong kebijakan biodiesel Indonesia. Stok minyak sawit Malaysia juga diperkirakan akan mencapai puncaknya mendekati akhir tahun dan turun sekitar 750 ribu ton pada Desember hingga Juni 2019,” terangnya.

Ia pun memperkirakan harga CPO yang saat ini lebih murah US$50 per ton berpeluang berbalik arah menjadi lebih mahal US$150 per ton dari harga minyak mentah Brent pada tahun depan. Selain didorong oleh kenaikan harga CPO, kondisi ini juga didorong oleh penurunan harga minyak.

Sementara Dorab E Mistry, Direktur Godrej Internasional memperkirakan kenaikan harga sawit pada tahun depan akan lebih banyak didorong oleh turunnya produksi seiring siklus. Ia pun mengingkatkan agar industri sawit di Indonesia tak hanya mengandalkan biodiesel untuk menyerap produksi.

“Jika harga minyak bumi turun dan (harga) biodisel menjadi tidak lagi atraktif. Ini berarti subsidi menjadi solusi. Kondisi ini suatu saat akan menjadi masalah bagi industri minyak nabati. Saya perkirakan ini akan terjadi,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *