Kisah Bocah Indonesia Taklukkan Gunung Tertinggi di Afrika

REKANBOLA – Mendaki gunung kerap diasosiasikan sebagai kegiatan yang identik dengan kaum lelaki, mengingat aktivitasnya sangat menguras tenaga dan membutuhkan stamina yang bagus.

Namun ‘mitos’ tersebut lama-kelamaan pudar dengan sendirinya. Para kaum hawa pun kini sudah banyak yang menggeluti aktivitas ini, bahkan belum lama ini seorang anak perempuan berusia 13 tahun sukses menggapai puncak Gunung Kilimanjaro, pegunungan tertinggi di benua Afrika.

Anak itu bernama Khansa Syahlaa, Siswi kelas 7 di sebuah sekolah swasta kawasan Jakarta Timur.

Sebelum mendaki Gunung Kilimanjaro yang memiliki ketinggian 5.895 mdpl itu, Khansa telah ‘menamatkan’ seven summit di Indonesia pada tahun 2017.

Tak hanya itu saja, ia juga telah melewati tiga dari tujuh rute pendakian terpanjang di Indonesia yakni Leuser, Gandang Dewata, dan Argopuro.

Di balik pencapaiannya itu, Khansa tak mendapatkannya secara instan dan ringan.

Banyak hal dan beragam bentuk latihan yang harus ia lalui sejak usianya lima tahun. Bahkan ia masih memegang rekor dunia sebagai pendaki termuda di puncak Cartenz.

Selama masa berlatihnya itu Khansa sangat didukung oleh ayahnya, Aulia Ibnu atau yang akrab disapa Ibnu.

Ibnu, yang kini kerap diminta mengisi seminar tentang membimbing anak terkait kegiatan mendaki gunung, menuturkan sama sekali tidak memiliki ambisi apapun terhadap prestasi putrinya itu.

“Yang motivasinya tinggi ya Khansa sendiri, saya cuma menemani dan mengantar saja,” ujar Ibnu kepada CNNIndonesia.com, beberapa saat lalu.

“Saya hanya ingin memiliki anak yang mandiri, berani, dan mengenal alam Indonesia.”

Ibnu kemudian bercerita tentang pengalamannya mendaki gunung pertama bersama Khansa.

Ia masih ingat pendakian pertama Khansa dilakukan di Gunung Gede, Jawa Barat. Itu pun tidak langsung sampai puncak, karena Ibnu hanya menerapkan konsep mengubah tempat bermain putrinya ke alam terbuka.

Baca Juga:   Telkomsel Luncurkan 'TCash Semua Bisa' Untuk Segala Operator

Ibnu bahkan tidak memaksakan putrinya untuk mencapai titik tertentu. Prinsipnya semua yang dilakukan harus bisa membuat anak gembira dan pastinya aman.

“Jangan pernah memaksa anak, mulai dari yang dekat saja dulu sesuai dengan kemampuan fisik anak. Kesan pertama harus menyenangkan dan sebagai orang tua haru memberikan contoh, jangan cuma ngomong aja tapi gak dilakuin,” katanya.

“Tapi yang tidak boleh ditawar-tawar adalah prosedur keamanan dan keselamatan, jangan pernah mengajarkan hal yang tidak tepat terkait hal ini.”

Selain itu, ia menambahkan, hal yang tidak boleh diabaikan adalah makanan, jam beraktivitas, hingga perlengkapan kesukaan seperti mainan anak juga harus dibawa dalam proses pembelajaran ini.

Bagi Ibnu inti dari kegiatan mendaki gunung bersama anak adalah memberikan pemahaman terhadap anak untuk bersikap, hal ini jelas akan berimbas kepada mentalnya.

“Bagi saya peran orang tua dalam pendakian adalah hanya mengantarkan sampai ke titik di mana sang anak mau berhenti kamu mau berhenti. Yang penting proses sudah dilalui dengan baik,” katanya.