Kisah Inspiratif Raja-raja Perhotelan Dunia

REKANBOLA – Kisah para pendiri properti dunia memang layak menjadi perbincangan. Bagaimana tidak, mayoritas dari para pendiri tersebut memulai usaha dari bawah. Seperti tiga pendiri perusahaan properti ini:

JW Marriot (Marriott International)

John Williard Marriot merupakan pendiri Marriott International. Namanya sudah tak asing karena menjadi salah satu merek bagi perusahaan global yang kini bergerak di bidang perhotelan.

Lahir dan besar di di sebuah kota kecil di Utah, tak menyurutkan niat Marriott muda untuk memulai usaha.

Dia pernah menjajal berbagai profesi seperti penulis, penjaga toko, pengajar, hingga manajer sebuah toko buku.

Setelah lulus dari Weber College, Marriot meneruskan pendidikannya di University of Utah. Selama masa kuliah, dia bersama dengan sahabatnya, Franklin D Richards bekerja di bisnis katering makanan.

Selama musim panas, Marriott menghabiskan masa liburannya dengan berjualan pakaian berbahan wol. Dia selalu pergi ke tempat penebangan di Northwest untuk menjual barang dagangannya.

Uniknya, Marriott punya cara tak biasa untuk memasarkan pakaian tersebut. Dia akan menantang beberapa orang penebang melepaskan celana wol itu dengan kakinya.

Jika mereka berhasil melakukannya, maka Marriot akan memberikan pakaian gratis. Namun jika penebang tersebut gagal, maka mereka harus membelinya.

Cara itu ternyata berhasil, Marriot pun menjadi penjual paling produktif perusahaan tersebut.

Richard E. Marriot, putra JW Marriot mengatakan, minat ayahnya dalam menjual sesuatu ternyata tak surut.

Ketika menemukan antusiasme masyarakat pada produk root beer keluaran A&W, JW Marriot merasa tertarik mencari tahu.

Dia melihat panjangnya antrian pembeli di sebuah kedai root beer biasa dan berusaha belajar bagaimana cara pemasaran produk tersebut.

Baca Juga:   Gila, Lima Mobil Ini Bermesin Pesawat Terbang

Marriot kemudian pergi ke California untuk bertemu dengan pendiri A&W, Roy Allen. Allen lalu memberikan izin kepada Marriot untuk menjual minuman tersebut di area Washington DC.

Dia memilih area tersebut karena melihat bagaimana panasnya Washington pada saat musim panas. Namun bisnis ini hanya bertahan saatr musim panas.

Ketika musim berganti, Marriot yang saat itu sudah menikahi istrinya mencoba berganti haluan dengan menjual tamales, makanan pedas asal Meksiko.

Kedai itu kemudian berubah nama menjadi Hot Shoppe yang menyediakan root beer dan panganan khas Meksiko.

Melansir situs Marriott, kedai tersebut menjadi cikal bakal bisnis JW Marriot ke depannya.

Pada 1937, Marriott mengembangkan kedai miliknya dengan membuka layanan katering pesawat. Dia menyediakan kotak makanan khusus untuk penumpang.

Bisnis ini pun terus berkembang. Hingga akhirnya pada 1953, saham Hot Shoppes Inc. dilepas ke publik dengan harga 10,25 dollar AS per lembarnya.

Pada 1957, Marriott membuat perubahan dengan terjun ke bisnis perhotelan. Hotel pertama yang dibuka berada di Arlington, Virginia. Hotel ini berada di bawah pengelolaan anaknya, Bill.

Bisnis perhotelan ini terus berkembang. Kini Marriott International merupakan perusahaan global yang bergerak di bidang perhotelan yang memiliki lebih dari 5.700 properti di lebih dari 110 negara.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *