Kisah Mantan Tenaga Honorer Menyulap Getah Gambir Jadi Pewarna Kain Jumputan Beromzet Jutaan.

REKANBOLA – Menjadi seorang pebisnis yang bergerak di bidang penjualan kain jumputan khas Sumatera Selatan tak pernah terlintas di pikiran Anggi Fitrilia Putri Pratama.

Sejak lulus dari Politeknik Teknologi Kimia Industri di Medan, ia hanya bekerja sebagai seorang tenaga kerja honorer di Dinas Perindustrian Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, pada 2013 lalu.

Selama 7 tahun menjadi tenaga honorer, Anggi pun menjadi penyuluh untuk para Industri Kecil Menengah (IKM) di Muba untuk pengolahan gambir.

Di sana, gambir digunakan untuk keperluan farmasi dan berbagai hal lainnya. Namun, di sisi lain, getah gambir sering tak digunakan, bahkan hanya menjadi limbah oleh para IKM.

Melihat banyaknya limbah getah gambir yang terbuang percuma membuat Anggi melakukan beberapa percobaan untuk menjadikan getah tersebut sebagai pewarna alami kain.

Percobaan itu berhasil. Anggi pun akhirnya mencoba peruntungan dengan menggeluti bisnis pembuatan kain jumputan khas Sumatera Selatan.

Ia pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai tenaga honorer.

“Saya baru resign jadi honorer sekitar empat bulan lalu, karena ingin fokus ke bisnis ini,  Minggu (28/72019).

Anggi kini mendirikan bisnis penjualan kain yang ia beri nama “Galeri Wong Kito”.

Rumahnya yang berada di kawasan Jalan Srijaya Negara, Bukit Kecil Palembang, dijadikannya sebagai tempat penjualan.

Selain itu, Ibu satu anak ini mulai aktif menjual kain jumputan dengan pewarna alami melalui media sosial.

“Sekitar 40 kain diekspor setiap bulan ke Singapura. Untuk di Indonesia, sekitar 100 kain. Kalau omzet setiap bulan sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per bulan,” kata Anggi.

Proses pewarnaan kain menggunakan getah gambir pun terbilang cukup mudah. Getah gambir yang baru diambil dikumpulkan menjadi satu tempat dan dimasukkan ke dalam dandang.

Baca Juga:   10 Teknologi di Sekitarmu yang Diprediksi Bakal Punah dari Peradaban

Selama 1 jam, getah tersebut direbus di dalam dandang hingga akhirnya menjadi kental. Getah gambir dapat menjadi beberapa warna alami, yakni kuning, oranye, hijau pandan, hitam dan abu-abu.

Warna itu nantinya menjadi dasar pembuatan kain jumputan.

“Satu bulan, kami habiskan sekitar dua drum besar getah gambir untuk pewarnaan kain. Itu dibeli dari Kabupaten Muba,” ujar wanita kelahiran 25 April 1990 tersebut.

Selain getah gambir, Anggi juga mencoba beberapa bahan lainnya untuk dijadikan pewarna alami kain. Misalnya, kulit kayu tingi, secang, mahoni, tegaran, jelawe dan kulit jengkol.

Hasil dari pewarna alami itu lebih menghasilkan warna yang baik dibandingkan menggunakan pewarna tekstil.

Bahkan, untuk kebutuhan ekspor, seluruh negara pemesan kain yang diproduksi Galeri Wong Kito menginginkan pewarna yang menggunakan bahan alami.

“Kalau memakai pewarna tekstil pasti ditolak. Mereka enggak mau beli, mereka hanya mau yang menggunakan pewarna alami. Lagian pewarna alami juga mengurangi limbah lingkungan, kalau pewarna tekstil itu limbahnya banyak” kata Anggi.

Daun untuk motif kain

Selain membuat kain jumputan motif titik tujuh, sumping dan pucuk rebung, Anggi mencoba memutar otak untuk membuat eksperimen baru dalam pembuatan kain.

Kali ini, ia memakai dedaunan untuk membuat motif kain. Berbagai jenis daun yang memiliki getah kental digunakan untuk menjadi motif. Metode ini diberi nama ECO Print.

Pembuatan kain bermotif daun itu terbilang cukup mudah. Sebab, daun tersebut hanya diletakkan di bawah dasar kain, lalu dipukul menggunakan palu yang terbuat dari kayu. Setelah daun tersebut menempel, motif kain akan terlihat.

Selanjutnya, setelah proses pembuatan motif selesai, kain tersebut dijemur di bawah terik matahari.

Selain itu, ada juga teknik lain ECO Print, yakni daun ditempel di dasar kain, lalu dikukus selama 2 jam mengunakan dandang.

Baca Juga:   10 Meme kocak 'libur sudah usai' ini bikin cengar-cengir sendiri

Teknik itu pun menciptakan motif kain yang begitu bagus, karena motif daun yang begitu sempurna.

“Untuk ECO print, kita membuat tas dan kain karena paling banyak diminati,” kata Anggi.

Berbagi ilmu

Selain menjadi tempat penjualan kain dan tas, Anggi pun berbagi ilmu dengan mengadakan pelatihan ECO Print di rumahnya. Mahasiswa lokal bahkan dari mancanegara datang berkunjung di “Galer Wong Kito” untuk mempelajari teknik menggunakan pewarna alam untuk pembuatan motif maupun dasar warna kain.

Menurut Anggi, mahasiswa dari Cina, Thailand dan Mesir datang ke tempatnya untuk mengetahui proses pembuatan kain dengan cara menggunakan pewarna alam.

Mereka satu per satu diajarkan teknik membuat motif serta mewarnai kain dengan memakai pewarna alami.

Menurut Anggi, selain mahasiswa, ia juga membuka pelatihan umum bagi seluruh kalangan untuk mempelajari pembuatan dasar warna kain secara alami.

Untuk satu kali latihan, para peserta hanya dikenakan biaya sebesar Rp 270 ribu sampai Rp 400 ribu per orang. Harga tersebut terbilang murah dibandingkan di tempat lain.

Meski begitu, Anggi tak segan untuk membagikan ilmunya kepada siapapun.

“Yang penting ilmunya berbagi, biar bisa dibutuhkan orang lain. Memang harga pelatihan saya lebih murah dibandingkan tempat lain. Tapi niat saya hanya untuk berbagi ilmu bukan soal harganya,” ujar Anggi.