Kisah Pasangan Tunanetra Saling Jatuh Cinta di Usia Hampir Seabad

REKANBOLA – Peter Van Zeller dan Nancy Bowstead yang kini berusia 97 tahun pernah bertugas di masa Perang Dunia II. Mereka kini tinggal di Brighton, Inggris dan tak pernah saling bertemu.

Hingga pada tahun lalu, kedua veteran perang itu bertemu di sebuah pusat pelatihan dan rehabilitasi bernama Blind Veteran, di mana mereka kini tinggal. Tak butuh waktu lama setelah bertemu, mereka akhirnya saling jatuh cinta.

Enam bulan kemudian, Peter, yang lahir di London dan besar di Inverness, memutuskan melamar Nancy yang berasal dari Cheshire. Pasangan yang pernah menikah dan sudah hidup sendiri itu akhirnya memutuskan menjalin komitmen formal yang disaksikan oleh keluarga dan para sahabat.

Keduanya tak pernah melepaskan gandengan tangan mereka sepanjang prosesi pemberkatan yang digelar dengan segala kebutuhan pernikahan, namun tanpa formalitas legal sebuah pernikahan, di sebuah gereja yang didekorasi dengan bunga dan ornamen hati. Pasangan ini tak pernah terpisahkan sejak bertemu di pusat rehabilitasi, di mana mereka tinggal setelah menjadi buta pada usia lanjut karena glukoma.

Nancy juga mengalami dua kali stroke, sementara Peter memiliki degenerasi makula. Meski begitu, pasangan tunanetra ini bahagia bisa saling bertemu dan menganggap itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

“Wanita ini datang dan duduk di sebelah saya di lounge setelah makan malam. Dia sudah pasti punya pesona dari dirinya dan kami langsung saling cocok,” kata Peter seperti dikutip dari laman Metro.

Sebelum bertemu Nancy, Peter tidak menyadari betapa kesepiannya ia sejak istrinya meninggal. Bersama Nancy, ia hanya ingin hidup bahagia bersama untuk waktu yang lama.

Baca Juga:   15 Foto jadul mobil ambulans 100 tahun lalu, bentuknya nggak disangka

Nancy mengungkapkan bahwa Peter sedikit pemarah saat pertama mereka bertemu. Namun, ketika mereka sudah mengobrol, dia merasakan pesona Peter. Dan karena tinggal saling berdekatan, dia selalu berusaha menemuinya.

“Dia melamar karena ingin memastikan aku tidak beralih ke laki-laki lain. Di sini lebih banyak pria dibanding wanita,” ujar Nancy.

Menurut Nancy, itu seperti mimpi yang menjadi nyata mengetahui bahwa ia bisa dihargai dan dicintai oleh seseorang seperti Peter setelah menyendiri selama bertahun-tahun.

Peter bergabung dengan Royal Air Force di usia 18 tahun, berlatih sebagai pilot dan menerbangkan jet tempur Westland Whirlwind di dalam skuadron yang melindungi kapal kargo di laut. Pada tahun 1943, ia bergabung dengan pasukan tentara dan dikirim ke Normandia sekitar satu minggu setelah pendaratan D-Day di tahun 1944, mengabdi sebagai infantri.

Selama masa pengabdian itu, ia pernah tertembak di tangan kanan oleh seorang sniper. Dia kemudian menikah dan memiliki keluarga tapi istrinya meninggal pada tahun 2012 di usia 89 tahun.

Kisah yang hampir mirip juga dialami Nancy. Ia memiliki dua anak dengan mendiang suaminya yang meninggal pada usia 89 tahun di tahun 2013. Saat ia berusia 17 tahun, Nancy memilih mengabdi untuk negara dan bergabung dengan Auxiliary Territorial Service (ATS) di tahun 1941.

Ia kemudian bertugas di situs senjata di Swansea selama sisa perang dan berhenti pada tahun 1948. Nancy mengikuti kegiatan amal di tahun 2011 bersama Blind Veterans dan Peter bergabung lima tahun kemudian. Keduanya membagikan cerita kehidupan di masa lalu mereka dan senang bisa menjadi pasangan resmi.

“Kami ingin hidup selamanya dan menikmati waktu kami bersama. Kami sudah menghadapi banyak hal di kehidupan kami dan kami hanya ingin saling mendampingi. Kami ingin melakukan banyak hal bersama. Kami sangat bahagia,” tutur Nancy.

Baca Juga:   5 Hewan Penyandang Predikat 'Kecil-kecil Pembunuh Hebat'