Koran Bekas, Sumiyati, dan Terapi Orang Gangguan Jiwa

Rekanbola – Sumiyati (44) warga Lingkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro terlihat terampil menggulung kertas koran bekas hingga memanjang kemudian ditekan menjadi pipih. Dengan alat bantu gunting, cutter, dan lem, ia kemudian membentuk gulungan-gulungan kertas koran tersebut menjadi barang-barang kerajinan berbentuk serangga, nampan, tempat air mineral, bros, tempat hantaran, hingga kap lampu.

Agar gulungan kertasnya padat dan besarannya seragam dia menggulung kertas dengan bantuan bambu yang sudah diserut. Sebagai pelindung, dia menggunakan pelitur transparan agar detail tulisan korannya tetap terlihat.

Awalnya dia melihat banyak tumpukan kertas koran bekas dan berangkat dari keisengan dia lalu membuatnya menjadi tatakan piring dan gelas. “Coba-coba buat akhirnya ya jadi tatakan gelas. Kemudian terus dikembangkan seperti buat bros bentuk bunga, nampan, kap lampu dan sekarang lagi buat serangga,” kata Sumiyati.

Harga yang dipatok juga cukup terjangkau antara Rp 3.000 untuk satu buah bros hingga Rp 350.000 untuk kap lampu. “Saya pernah buat kereta kencana plus kudanya dari kertas limbah koran. Saya enggak kasih harga tapi orangnya yang membeli yang memberikan harga. Semakin rumit pembuatanya harganya semakin mahal,” jelasnya. Walaupun masih industri rumah tangga, pesanan kerajinan banyak yang datang dari luar kota Banyuwangi.

Sumiyati mencontohkan dia sempat mendapatkan pesanan tempat parsel untuk Lebaran dari Sidoarjo beberapa waktu yang lalu. Untuk pembuatannya pun tidak membutuhkan waktu lama. Dalam satu hari, dia bisa menyelesaikan tiga buah kerajinan berbentuk serangga. “Beda kalau rumit dan detail agak lama.

Serangga kan bentuknya kecil,” katanya. Ibu rumah tangga yang sudah memiliki tiga anak tersebut juga sering memberikan pelatihan-pelatihan di masyarakat termasuk anak-anak kebutuhan khusus di SLB dan juga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Puskesmas Gitik Rogojampi.

Baca Juga:   Tak kuasa menahan nafsu, mahasiswa remas payudara wanita di mal

“Kalau di puskesmas Gitik memang untuk orang ganguan jiwa yang emosi yang dinilai stabil. Ada banyak yang ikut tapi hanya satu orang yang lebih fokus dibandingkan yang lain,” ujarnya. Tiwul dan Gatot Dia diminta melatih orang dengan gangguan jiwa membuat kerajinan dari limbah sebagai terapi kerja dengan harapan agar mereka lebih mandiri.

“Saat melatih orang-orang dengan gangguan jiwa didampingi oleh pihak puskesmas. Memang butuh kesabaran ekstra dan telaten. Saya menyadari kalau tiba tiba mereka ngambek dan enggak mau mengerjakan,” katanya sambil ternyum. Hal serupa juga dirasakan saat dia melatih anak-anak kebutuhan khusus dan difabel di sekolah luar biasa.

Dia sering kesulitan berkomunikasi dengan para siswa dan harus dibantu dengan guru pendamping untuk mengarahkan para siswa. “Semuanya saya latih kecuali yang Tuna Netra karena memang agak sulit, bukannya tidak bisa tapi harus khusus penanganannya karena mereka tidak bisa melihat,” sebut dia.

Yang membuat Sumiyati bersyukur adalah kegiatan yang dilakukan bisa bermanfaat buat orang lain terutama mereka yang minoritas. Bahkan siswa sekolah luar biasa yang pernah ia latih akan menggelar pameran kerajinan dari kertas koran bekas di Jakarta dalam waktu dekat ini. “Modalnya murah hanya koran bekas, lem, cutter, gunting.

Kertasnya tinggal di gulung kemudian di rangkai sesuai dengan kreativitas. Dan mereka orang dengan ganguan jiwa serta siswa SLB bisa mengikuti. Akan berbeda jika kertas korannya di jadikan bubur dulu kemudian dicetak, mereka akan kesulitan menpelajari karena sedikit,” pungkas Sumiyati.