Krakatau Steel Restrukturisasi Utang Rp29 Triliun

Rekanbola – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akan merestrukturisasi utang sebesar US$2 miliar atau setara Rp29 triliun (kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat) pada tahun ini. Saat ini, perusahaan sedang menyusun beberapa skema restrukturisasi yang akan diputuskan pada akhir Januari nanti.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan konsultan manajemen internasional McKinsey & Company. Beberapa opsi yang disiapkan, misalnya perpanjangan utang, negosiasi bunga utang, dan utang ditukar dengan saham perusahaan (debt to equity swap).

“Fokusnya (tahun ini) kan menata fundamental Krakatau Steel dulu, saya mau buat Krakatau Steel sehat dulu, salah satunya restrukturisasi,” ujarnya, Jumat (4/1).

Dalam laporan keuangan perusahaan per September 2018, total liabilitas emiten berkode KRAS sepanjang kuartal III 2018 sebesar US$2,35 miliar. Angka itu naik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,26 miliar.

Total liabilitas kuartal III 2018 ini terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$1,39 miliar dan liabilitas panjang US$960,99 juta. Sementara, pada kuartal III 2017 total liabilitas pendek hanya US$1,36 miliar dan liabilitas jangka pendek US$899,67 juta.

“Untuk pelunasan utang Krakatau Steel ini juga saya turun langsung untuk diskusi dengan Direktur Utama perbankan yang termasuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara),” imbuh Silmy.

Perusahaan beserta entitasnya memiliki utang dari berbagai perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Beberapa bank tersebut, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Namun, apakah ada kemungkinan nanti ketiga bank ini memiliki saham di Krakatau Steel dengan skema restrukturisasi debt to equity swap, Silmy belum bisa memastikan hal tersebut.

Baca Juga:   8 Kota Terbaik di Asia bagi Startup

Lebih lanjut ia menerangkan perusahaan juga akan mengakuisisi dua sampai tiga pabrik pada tahun ini usai proses restrukturisasi rampung dilakukan. Targetnya, kata Silmy, akuisisi bisa dilakukan sekitar kuartal II atau kuartal III tahun ini.

“Akuisisinya dilakukan dengan BUMN karya, jadi bermitra,” jelasnya.

Namun, ia masih enggan memberikan bocoran perusahaan mana yang akan diajaknya bekerja sama. Seperti diketahui, ada empat BUMN karya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keempatnya adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.

“BUMN karya (siapa) ada lah, belum boleh bicara dulu karena mereka perusahaan terbuka juga,” ucap Silmy.

Saat ini, manajemen sudah melakukan uji coba terhadap pabrik yang akan diakuisisi dan terus berdiskusi dengan BUMN karya. Hanya saja, ia mengaku belum menentukan asal pendanaan untuk mengambilalih dua sampai tiga pabrik baja. 

Beberapa opsi yang direncanakan, antara lain penerbitan surat utang (obligasi), penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, dan pinjaman.

“Tapi pilihan itu kami pilih setelah restrukturisasi dulu,” tandasnya.