Laba Industri China Melempem Tiga Bulan Berturut-turut

Rekanbola – Pertumbuhan laba industri di China terus melorot dalam tiga bulan berturut-turut, yaitu Mei, Juni, dan Juli. Hal ini menandakan bahwa permintaan terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mulai mengendur, di samping peningkatan tensi perang dagang China dengan Amerika Serikat (AS).

Biro Statistik China (NBS) menyebut keuntungan industri China naik 16,2 persen menjadi 515,12 miliar yuan (setara US$74,94 miliar) per Juli 2018.

Meski naik, namun realisasi itu melambat dibandingkan bulan sebelumnya, yakni Juni 2018, yang tercatat tumbuh 20 persen, serta Mei 2018 yang sempat meningkat 21,1 persen.

Juru Bicara NBS He Ping mengatakan pertumbuhan laba industri melambat dikarenakan inflasi harga tingkat produsen cukup moderat. Selain itu, terjadi perlambatan investasi hingga ke rekor terendahnya, sehingga konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja.

He menjelaskan kenaikan harga bahan baku, seperti industri baja dan minyak telah membuat pelaku usaha menekan marjin mereka.

“Survei bisnis juga menunjukkan produsen yang lebih kecil sedang berjuang dan terus mengurang tenaga kerja mereka,” ujarnya.

Kendati sektor industri mulai menunjukkan perlambatan, Kepala NBS Ning Jizhe bilang pemerintah optimis dapat memenuhi target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen hingga akhir tahun nanti.

“Kami akan mengambil langkah-langkah yang ditargetkan untuk mengatasi dampak pada pekerjaan yang mungkin disebabkan oleh gesekan perdagangan,” jelasnya.

Pangkas Pajak

Pemerintah China agaknya menginjak pedal gas untuk menopang pertumbuhan ekonomi tahun ini. Berbagai cara dilakukan, seperti mempercepat pengeluaran infrastruktur dan menjaga likuiditas.

Para pejabat negara juga mengungkapkan akan menawarkan lebih banyak bantuan kepada perusahaan-perusahaan yang tengah berjuang dengan biaya tinggi atau kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan.

Pekan lalu, Menteri Keuangan China Liu Kun bahkan berjanji akan memangkas pajak dan biaya-biaya yang ditimbulkan kepada sektor industri hingga sebesar 1,1 triliun yuan pada tahun ini.

Baca Juga:   Ribuan Tiket Kereta Lebaran Masih Tersedia, Cek Tanggalnya

(Kredit : www.detik.com)