Laporan dari Fiji: Menangkap Peluang Ledakan Jumlah Turis 2030

REKANBOLA – Industri pariwisata telah menjadi bagian penting dalam perekonomian negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Bak pisau bermata dua, pariwisata bisa mendatangkan berkah berupa devisa serta pembukaan lapangan kerja, akan tetapi sekaligus mengancam ketahanan lingkungan serta masyarakat apabila tidak dikelola dengan seksama.

Menurut data Asian Development Bank (ADB), jumlah turis asing yang masuk ke wilayah Asia dan Pasifik pada 2018 mencapai sekitar 343 juta juta. Pengeluaran para turis ini selama berwisata mencapai sekitar US$390 miliar.

Pada periode 2010—2018, jumlah turis internasional yang datang dengan menumpang pesawat terbang ke wilayah Asia Pasifik naik 65%. Tujuan utama wisata berturut-turut adalah China, Thailand, Jepang, Hong Kong, China, dan Malaysia.

Di sisi lain, turis dari Asia juga kian banyak melanglangbuana ke berbagai belahan dunia. Seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah.

Gelombang turis internasional dari seluruh dunia di berbagai belahan dunia akan mencapai sekitar 2,44 miliar orang pada 2030, melonjak 75% dibandingkan dengan kondisi pada 2018. Wilayah Asia Pasifik diperkirakan akan menampung sekitar sepertiga di antara total jumlah turis tersebut, atau sekitar 813 juta wisatawan. Sungguh bukan jumlah yang kecil.

Presiden ADB Takehiko Nakao mengingatkan perlunya negara-negara di Asia Pasifik untuk menghitung daya dukung lingkungan yang tersedia untuk menampung para turis baik lokal maupun mancanegara.

Naoko mengapresiasi langkah yang diambil oleh pemerintah Filipina ketika memutuskan menutup sementara obyek wisata Burakai demi memulihkan kondisi lingkungan yang dinilai sudah tidak memiliki daya dukung untuk menampung wisatawan. Selama beberapa waktu, obyek wisata pantai yang sangat populer tersebut tidak dibuka untuk wisatawan karena pemerintah setempat fokus memperbaiki sejumlah hal mendasar seperti pengelolaan sampah, air bersih, dan sanitasi.

Baca Juga:   Pemerintah Akan Terbitkan Surat Utang Berdenominasi Yuan

“Untuk membuat industri pariwisata bisa terus berkelanjutan, hal-hal seperti itu perlu diperhatikan,” ujarnya dalam seminar The Role of Tourism for Sustainable Development yang digelar sebagai bagian dari rangkaian acara 52th ADB Annual Meeting 2019 di Nadi, Fiji, Sabtu (4/5/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa Indonesia sedang menerapkan langkah-langkah strategis untuk menyiapkan industri pariwisata yang lebih berkelanjutan. Salah satu hal yang dilakukan adalah memperkenalkan onyek wisata baru di berbagai wilayah untuk mendiversifikasi pilihan obyek wisata yang ditawarkan kepada wisatawan baik lokal maupun asing.

“Pemerintah menyiapkan destinasi wisata selain Bali. Tahun depan akan siap 4 tujuan wisata baru yakni Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika dan Danau Toba,” katanya.

Di sisi lain, Bali sebagai tempat tujuan wisata yang sudah sangat populer di kalangan wisatawan asing, juga tengah diupayakan agar terjaga kualitasnya. Dalam hal kebudayaan, keaslian budaya Bali diharapkan tetap dipertahankan sebagai identitas lokal yang membedakan Bali dengan tempat wisata lainnya.

Sementara itu, dari sisi daya dukung lingkungan, pemerintah berupaya memastikan bahwa kelestarian lingkungan yang juga menjadi daya tarik utama Bali akan terus terjaga. Salah satu inisiatif yang telah dilakukan adalah melarang penggunaan plastik sekali pakai di wilayah Pulau Dewata.

“Kami juga sedang membangun sistem pengelolaan limbah yang terpadu untuk memastikan sampah dikelola dengan baik,” ujarnya.