Lepas dari Skorsing, Wahyu Nayaka Terbebas dari Satu Beban

REKANBOLA –  Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira menyelesaikan masa hukuman dari Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Kini, pasangan Ade Yusuf Santoso itu bisa menikmati fasilitas penuh sebagai penghuni pelatnas.

Wahyu tak masuk dalam Surat Keputusan daftar pelatnas PBSI 2019. Statusnya bukan degradasi, namun sedang dihukum.

Pebulutangkis yang dibesarkan PB Ratih Banten itu disanksi setelah namanya masuk dalam susunan pemain sebuah klub di Liga Malaysia. Padahal, PBSI melarangnya. Wahyu harus menjalani hukuman dengan pencabutan fasilitas turnamen dan kesehatan selama enam bulan.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, memastikan pencabutan sanksi kepada Wahyu. Hukuman itu habis pada 1 April 2019.

“Wahyu sudah dikembalikan sebagai atlet SK Pelatnas Utama. Tapi ada beberapa yang harus diselesaikan administrasi, birokrasi, baru pengembaliannya itu, jadi baru menerima kontrak itu April kemarin,” kata Susy di Pelatnas PBSI, Cipayung, Senin (17/6/2019).

Susy berharap kejadian yang menimpa Wahyu bisa menjadi pembelajaran untuk seluruh atlet. Dalam arti, atlet harus bersikap profesional tidak hanya berkomitmen tapi mengikuti aturan yang ada.

“Di setiap bernaung pasti ada aturannya, kalau aturan dilanggar tentu ada hukumannya. Hukuman bukan berarti yang menjatuhkan tapi mendidik supaya memotivasi, memperbaiki diri,” dia menjelaskan.

“Setiap aturan pasti ada konsekuensinya sehingga mereka tak anggap ‘ah, sudah jalan saja. Kalau tidak ada aturannya kan susah karena di sini mengatur banyak orang. Tanggung jawab kami bukan kepada diri sendiri, tapi orang tua, masyarakat, terhadap Menpora, KONI, KOI, bahkan masyarakat Indonesia. Jadi komponen itu bukan diatur tapi harus diikut,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan pelatih pelatnas PBSI ganda putra, Herry Iman Pierngadi. Dia berharap atletnya bisa lebih terbuka untuk masalah apapun.

Baca Juga:   Aldila Kalah, Indonesia Tanpa Medali di Tenis Tunggal Putri

“Ke depan apapun hubungannya dengan atlet minimal komunikasi dengan pelatih. Masalah kontrak juga harus seperti itu, minimal kasih tahu dan diskusi dengan pelatih. Nanti pelatih yang sampaikan ke pengurus,” kata Herry.