Mengejar Passion, Nuniek Mokoginta Kembangkan Misi Budaya

Rekanbola- Pendiri Nusantara Art Forum (NAF) Nuniek Mokoginta mengawali karier menari dari kecintaannya terhadap dunia seni tari. Ia bahkan mulai belajar menari di usia 5 tahun meskipun sempat dilarang sang ibu untuk menjadi seorang penari.

“Karena beliau bilang saya tidak bisa hidup dari menari. Tapi saya selalu belajar menari. Tari Jawa dari umur 5 tahun sampai 11 tahun lalu saya pindah belajar menari Bali. Tapi umur 9 sampai 11 tahun saya juga belajar balet,” kata Nuniek.

Nuniek menemukan passionnya ketika sang anak mengikuti misi budaya ke luar negeri di tahun 2006. Dari situlah dirinya bertekad untuk memperkenalkan tarian Indonesia ke kancah dunia.

“Show pertama yang kita buat itu tahun 2007 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ketika itu belum ada yang namanya School Show di seluruh sekolah di Indonesia jadi saya ingin melihat animonya dan ternyata responsnya positif dan anak-anak senang. Dari situ saya tahu bahwa anak-anak banyak tidak tahu tentang songket dan budaya Indonesia,” jelas penggemar hainan chicken rice ini.

Awalnya, ia memiliki misi dalam mendirikan NAF untuk membantu para seniman dan musisi dalam mendapatkan pekerjaan untuk hidup sehari-hari.

“Saya pernah ketemu beberapa pemusik atau seniman yang tidak mendapatkan job. Jadi tadinya itu untuk menghidupi mereka dengan cara memberikan jobsebagai pelatih musik dan tarian. Tapi ternyata mereka bisa berkembang dan menggali sesuatu sehingga akhirnya mereka bisa menghidupi diri sendiri,” jelasnya.

Dari misi awal tersebut, NAF yang ia dirikan pada 2006 kemudian berkembang menjadi misi budaya yang mengirimkan generasi muda Indonesia menari ke luar negeri.

Baca Juga:   'Pede' Ekonomi AS Tumbuh, Alasan The Fed Kerek Bunga Acuan

Menari di luar negeri, menurut Nuniek, juga menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak Indonesia untuk lebih mengenal budayanya. Selain menjadi kebanggaan karena tampil di depan umum, para penari muda ini memiliki tanggung jawab untuk menjadi perwakilan Indonesia.

Dari keinginannya tersebut, sejak 2009, NAF sudah rutin mengirimkan delegasi dari Indonesia ke Singapura untuk acara Chingay Parade. Itu merupakan acara tahunan yang merupakan bagian dari perayaan Imlek di Singapura.

“Ini kali ke-10, saya ikut Chingay Parade,” ujarnya.

Selama di Singapura, para delegasi juga mendapatkan pengalaman untuk menjadi mandiri karena mereka harus mengurus diri sendiri dan menginap di boarding school. Karena itulah Nuniek bersikeras mengirimkan penari secara rutin ke Chingay Parade, setelah sebelumnya mendapat rekomendasi seorang maestro tari Zapin dari Riau, Tom Ibnur.

“Saya mendapat rekomendasi dari Tom Ibnur, seorang maestro tari Zapin dari Riau. Dia meminta kita mencoba ikutan Chingay Parade,” tambahnya.

Nuniek kemudian menghubungi People’s Association (PA), panitia parade, dan mendapatkan slot pre-parade alias mengisi acara sebelum parade yang sesungguhnya dimulai.

“Waktu itu tahun 2009 di depan bangunan yang sekarang menjadi National Gallery Singapore. Nah, setelah saya tampil berikutnya tari Reog, lalu saya ngomong sama KBRI kalau saya juga dari Indonesia, jadi kenapa harus pisah-pisah? Sejak itu 2010, kita bergabung dengan KBRI,” kenangnya.

Namun ada kalanya KBRI penuh dan NAF tetap mengirimkan delegasinya sendiri ke Chingay Parade melalui PA. “Yang penting anak-anak tampil setiap tahun,” jelas Nuniek.

Ia juga mengatakan bahwa melewatkan Chingay Parade merupakan hal yang sangat disayangkan. Sehingga ia rutin mengirim delegasi Indonesia ke Singapura.

“It’s my personal passion, kalau kita tidak mengisi, untuk saya itu, aduh, sayang banget,” tegasnya.

Baca Juga:   Ekspor Produk Perikanan Sulsel Melonjak 602 Persen, Ini Sebabnya

Ia pun menjelaskan bahwa delegasi yang dikirim ke Singapura akan mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan yang baru.

“Singapura itu window of the world. Mereka bisa belajar sesuatu, misalnya dari MRT karena MRT di Singapura tidak rumit. Singapura juga dekat dari Jakarta,” ujarnya.

Tahun ini, Indonesia mengirimkan 50 orang delegasi melalui NAF dan KBRI yang diserahkan kepada Universitas Negeri Medan (UniMed).

“Pengaturan mereka untuk tahun ini, di baris depan adalah penari Bali dan di baris belakang penari dari Sumatera semua. Musik juga dari UniMed. Gerakannya juga dari UniMed, tapi kami modifikasi lagi,” kata Nuniek yang juga merupakan Founder Swara Mahardhika.

Namun perjalanannya tersebut pernah melalui masa sulit di masa lalu. Salah satunya ia harus sering izin dari kantor karena misi budaya tersebut. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti bekerja agar bisa fokus ke kegiatan yang menjadi passion-nya itu.

“Waktu anak saya ikut misi budaya ke luar negeri tahun 2006, saya menemukan kembali jiwa saya. Dari 2006 sampai 2008 saya beberapa bulan sekali izin dan cuti dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Passion saya memang menari dan memang saya inginnya ya kembali ke dunia panggung meskipun sekarang lebih ke yang di balik layar,” harapnya.

Dari kisah Nuniek, ada banyak hal positif yang bisa diambil. Kamu juga bisa mengejar passion seperti Nuniek di Singapura.

Singapura adalah destinasi di mana kamu dapat mewujudkan impian. Kini saatnya untuk tak sekadar hadir di acara seni budaya dan jadilah para pembentuk kebudayaan.

 

( Sumber : detik.com )